Meet Ramadhan 1430 H

August 24, 2009 – 3:25 am

Alhamdulillah.. Akhirnya bertemu ramadhan lagi di tahun 2009 ini (1430H), but sebelumnya:

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –> Do’a malaikat Jibril menjelang Ramadhan "Ya Allah tolong abaikan puasa umat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut :
1. Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
2. Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami isteri (itupun jika sudah nikah);
3. Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kal
i

Jadi…mohon maaf lahir bathin di hari ke3 bulan puasa iniemoticon

jadi teringat dengan pidato nabi SAW:

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Diriwayatkan Oleh Ibnu Huzaimah, Rasulullah memberikan nasihat menjelang Ramadhan :
“Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.

Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba- Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”

Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan- Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata :

“Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.

Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”

“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”

“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan (syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”

“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”

Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”

“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”

“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.“

“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”

“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.”

 

Akhirnya: semoga di bulan suci ini Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita..amin


Ambiguitas Film Jamila & Sang Presiden

May 8, 2009 – 4:32 am


Penerapan Sistem Kapitalisme:

Sumber Masalah Perdagangan Wanita dan Anak-anak

 

Ratna Sarumpaet, seorang aktivis perempuan Indonesia dalam acara Apa Kabar Indonesia, TV One, Pagi, Kamis 30 April 2009, menyatakan bahwa Indonesia sebagai sebuah negara religius menempati posisi yang cukup tinggi untuk kasus penjualan wanita dan anak-anak. Ratna mempertanyakan Indonesia? Mengapa bangsa beragama yang kental dengan ritual agama bisa seperti ini? Dia berharap pemerintah (khususnya yang akan terpilih kelak) memperhatikan ini dalam kebijakannya, karna kondisi ini sungguh memprihatinkan. Kalau boleh dikatakan, Ratna sedang mempertanyakan peran agama dalam kasus ini. Kita bisa bertanya balik, mengapa peran agama ditanyakan ketika problem sosial merebak bak jamur di musim hujan? Lalu, mengapa juga sebagian orang mempertanyakan ulang ketika agama ingin memainkan perannya menyelesaikan permasalahan masyarakat, dengan dalih ”kita bukan negara agama!” atau ”negara hanya mengatur wilayah privat! Jangan campuri wilayah publik!”

Bangsa Indonesia memang bangsa beragama. Penduduknya 80 % Islam, dan pejabat terasnya juga mayoritas Islam, konklusinya berdasarkan premis di atas adalah pihak yang dimintai pertanggungjawabannya berarti agama Islam. Namun, ada yang terlewatkan. Pada faktanya, memang bangsa ini mayoritas Islam, tapi Islam ditempatkan hanya sebatas agama yang porsi kerjanya hanya pada ranah privat yakni seputar ibadah ritual, pernikahan, kematian, norma-norma etika dan solusi bagi hal-hal ghaib semisal jika ada yang kesurupan atau sedang dilanda stress (seperti para caleg gagal saat ini—red). Kini pun, hukum Islam dalam ranah keluarga sedang digugat dengan dalih keadilan & kesetaraan gender. Jadi, porsi agama dalam aspek privat sudah semakin tereduksi. Entahlah..mungkin esok hari, agama hanya tertera indah di KTP dan tak punya peran lagi walaupun secuil. Islam tidak berperan sebagai pandangan hidup (idiologi) bagi bangsa ini juga bangsa lain di dunia. Aturan perundang-undangan dan kebijakan penguasa tidak lahir dari rahim syariat Islam, tapi lahir dari rahim demokrasi. Asas tegaknya hukum bagi negri ini adalah sekulerisme, paham yang memisahkan agama dari pemerintahan, dimana tidak boleh satupun agama mencampuri kebijakan negara. Kalaupun boleh, ya ..sebatas menginspirasi/mengilhami lahirnya kebijakan, bukan benar-benar lahir sebagai akibat penggalian sumber-sumber hukum agama (Quran dan Hadist –red). Secara historis dan fakta empirik, negara ini sejak merdekanya menerapkan idiologi selain Islam, bahkan tidak lahir dari agama. Bangsa ini pernah dipimpin idiologi yang cenderung ke sosialis, pernah pula dipimpin rezim yang cenderung ke kapitalis, bahkan sekarang para pakar ekonomi menyatakan Indonesia jelas terlihat cenderung ke kapitalis mazhab neoliberalisme. Justru, sangat rasional jika sistem Kapitalisme dapat dijadikan tersangka problem sosial ini. Pantas pula dicurigai, bukannya regulasi hukum lahir ketika sistem ini diberlakukan oleh negara RI ? Mengapa pula kita sibuk mempertanyakan sesuatu (agama) yang tak berperan melahirkan hukum/perundangan di negri ini?

Mengapa ? Sungguh sangat beralasan. Prinsip-prinsip kapitalisme perlu ditelusuri. Ciri khas idiologi ini ada pada sistem ekonominya, sehingga ciri ini pun disematkan pada namanya, secara terminologis, capital yang berarti modal dan isme yang berarti paham. Kapitalisme sangat menyanjung kebebasan individu, negara hadir sebagai penjaga kepentingan individu agar tidak saling bertabrakan. Kapitalisme berdiri diatas pondasi sekulerisme. Kapitalisme memandang bahwa standar perbuatan/ aktivitas adalah untung-rugi. Standar ini menjadi basis penilaian bagi semua problem masyarakat, termasuk kasus hangat yang diangakat dalam judul tulisan ini. Semua aspek kehidupan dilihat dengan kacamata niaga. Tidaklah aneh jika manusia pun bisa menjadi salah satu komoditas dagangnya, sebab halal menurut kapitalisme adalah sesuatu yang mendatangkan untung, sedangkan haram adalah hal yang mendatangkan kerugian/tidak eksis manfaatnya. Bahkan, kocek negara bisa saja dibiayai oleh sumber-sumber yang menurut pranata agama dianggap haram. Contohnya Thailand, banyak media melansir, pajak terbesar negri gajah putih ini bersumber pada bisnis prostitusi, negri ini adalah surga bagi para hidung belang, semua tersedia, baik wanita dewasa maupun anak-anak. Perdagangan wanita & anak laris bak kacang goreng di sana. Maka, berlakulah hukum ekonomi kapitalis : dimana ada permintaan, di sana ada penawaran. Tragis bukan! Keperawanan gadis-gadis muda Thailand merupakan aset berharga devisa negara. Apalagi USA, sudah menjadi ”kemakluman bersama”, bagaimana Las Vegas, salah satu kota di negara bagiannya, menjadi pusat perjudian dunia sekaligus prostitusi juga ada di sana. Dan, di negri ini, di ibu kota kita, pernah ada seorang Gubernur dengan terang dan jelas menjadikan bisnis judi dan prostitusi menjadi salah satu penopang perekonomian ibu kota.  Sekarang, bisnis prostitusi yang meniscayakan adanya perdagangan manusia untuk seks, tetap ada. Salah satu kota di Jawa Barat, pernah diberitakan menjadi pemasok bisnis ini. Pencapaian kesejahtraan dan kebahagiaan menjadi pembenaran. Prostitusi memang masalah sosial, tapi sekarang telah terjadi pergeseran nilai, dimana prostitusi dianggap bagian dari pekerjaan walaupun hina namun semuanya demi menghidupi keluarga. Ada diskriminasi penilaian di sini. Korupsi..yang telah ditetapkan sebagai musuh bersama bangsa ini, bukankah para pelakunya berbuat atas dasar ingin mensejahtrakan keluarganya ? Selama bisnis prostitusi masih dilegalkan atas nama ”lokalisasi” apalagi menjadi sumber devisa maka perdagangan wanita dan anak-anak akan tetap ada, tidak hanya bagi Indonesia tapi bagi seluruh dunia.. Perdagangan manusia akan berhenti apabila logika ekonomi kita berubah. Padahal sistem ekonomi tsb, sistem hukum dan aturan-aturan lainnya dipayungi oleh idiologi/sistem kapitalisme. Ketika sistem ini diganti, maka standar/cara pandang melihat problem masyarakat juga akan berganti.

Jadi…sangat rasional jika kapitalisme ditetapkan sebagai biang keroknya. Propaganda yang selama ini menyudutkan agama (Islam) sungguh amat sangat tidak adil. Mau dengan apapun balutan propaganda buruk tsb, apakah via tulisan, media cetak, elektronik, pementasan ataukah pagelaran film, tetap saja tidak bisa menyembunyikan boroknya. Siapa yang berbuat….semestinya dialah yang bertanggungjawab. Nyatanya, agama (Islam) telah diadili secara opini umum Akar masalah kasus ini bukan pada ”kaum laki-laki yang mendominasi wanita” atau pada alasan-alasan lainnya. Terlalu sempit cara berfikirnya. Memang, patut diakui, diperlukan pemikiran cemerlang untuk memahami persoalan pelik ini. Sayangnya, potensi berfikir itu, telah dimampatkan dan dengan sengaja didangkalkan. Padahal kita membutuhkan pemikiran cemerlang yang kan mengantarkan kita pada taraf berfikir politik. Persepsi kita tentang politik juga sudah diracuni, politik yang kita kenali adalah politik oportunis & pragmatis. Telinga ini tak akrab dengan politik Islam, laku kita tak dekat dengan praktek politik Islam, toh sekalipun kita mayoritas Islam. Ironisnya, Islam sekedar warisan kepercayaan orang tua.

Dan akhirnya, selama kapitalisme-sekuler masih bercokol di bumi ini, maka..selama itulah perdagangan manusia akan tetap berlangsung. Lalu ….masihkah kita berharap? Masihkah agama (Islam) dijadikan kambing hitam ?


Mei Indah

May 8, 2009 – 3:46 am

Assalammualaikum!

Akhirnya…aku mulai nulis lagi di sini, setelah lama berhenti. Hmm jumpa lagi dengan bulan mei. bulan pendidikan dan kebangkitan. Ayo bangkit-bangkit!!!

2009 yang rame…awal tahun dibuka dengan kisah tragis sodara-sodara kita di Palestine yang "rame-rame" dibantai dan dunia cuma bisa mengecam. Trus ribut-ribut kawin siri selebritis bla-bla…Ada pemilu bu! yang heboh ribut-ribut DPT dan perhitungan suara yang tak "adil" menurut orang-orang, pemilu yang mahal…kira-kira pake duit sapa ya…rakyat tetap menderita ataw bahagia ya?????

Bahagia di dunia, di akhirat bahagia gak ya???

Menjelang pilpres, ada kasus antasari…dan gak ketinggalan...My Thesis

Wassalamualaikum

 

 


Halal jadi Haram…Haram jadi Halal??!

November 15, 2008 – 5:13 am

Sudah berminggu-minggu ini, siaran teve kita selalu dihiasi berita syekh Puji..

Ya..keputusannya menikahi gadis belia menjadi sensasi yg menghebohkan Indonesia. Publik pun dibuat sibuk menghitung selisih usia lelaki separuh baya itu dengan gadis manis pelajar SMP tsb. Perdebatan juga rame disana sini. Setuju or not setuju. Tapi kayaknya berita di media lebih berat ke pihak2 yg gak setuju. Yah beragamlah versinya, dari yg mencela, membenci, memaki sampai menasehati.

Beragam kelas juga komentar lo. Dari masyarakat awam, kaum terpelajar, birokrat sampai ulama. Pasalnya, "Si ulfa masih bau kencur, terlalu muda kasihan alat reproduksinya" komentar dokter Boyke. atau Kak Seto "kasihan dengan kondisi kejiwaannya". Cuma satu fakta yg kurang diangkat. Atau memang gak mau diangkat? Bagaimana Islam (agama kedua sejoli tsb–red) menilai tindakan mereka? Tapi kalau pun sengaja gak diekspose, yah wajarlah…udah terlewat biasa. Khalayak pasti bilang…kita kan bukan negara Islam, dibilang sekuler juga gak mau. Tapi kok keliatan banget ya sekuler nyaemoticon .

Saya jadi ingat…beberapa waktu lalu ada juga kasus yg melibatkan tokoh masyarakat / tokoh agama yg juga gak kalah seru diekspose. Bahkan semua infotainment ikut berburu berita menayangkan kasus mereka. Apaan tu? ya karena tokoh tsb poligami, lalu bermunculan beragam dialog & debat, pro-kontra poligami. Dikaitkan pula dengan KDRT dsb..dsb.

Nah..kalo sekarang apa lagi tu???? produk hukum sekuler apa lagi ni yang mo keluar???? emoticon

Memang susah ya hidup di alam sekuler nan kapitalis…agama gak boleh dibawa2 si dalam kehidupan sehari-hari. Ya jadinya kacau balau. Yang diperbolehkan Tuhan (Allah SWT) dilarang sama undang2 dengan beragam dalih "KDRT la.." , "kasian sama kejiwaannya..la", "atas nama HAM dan demokrasi la..", "bla..bla".

Mestinya tu undang2 lahir untuk hentikan kemaksiatan seperti:

1.lokalisasi pelacuran..sarang penyakit kelamin&AIDS, jadi kalo kita serius ingin menghentikan penyebaran penyakit ganas ini, STOP seks bebas tanpa ikatan pernikahan…."eh2 jangan dong, kan penghasilan gue dari situ" (kata pemilik modal)  …"gak boleh! itu melanggar HAM, mereka bebas berekspresi " (kata pendekar HAM)…"jangan! banyak pajaknya buat daerah kita! (kata tiiiitemoticon)

2.Tutup pabrik miras..pemicu kriminalitas..biar penjara gak penuh..biar APBN cukup mensejahtrakan rakyat…."Tidak! gimana dengan para tenaga kerjanya , pengangguran dong!(kata mereka)–

tapi kata saya…maksiat itu bukan pekerjaan Bang..Mpok..mbak! emoticon, gak kasian sama yg dinafkahi tiap hari makan harta haram yg mengalir dalam darah mereka, nanti di hari akhir..anak2 kita akan minta pertanggungjawaban kita yg memasukkan barang haram dalam hidup mereka (ya..itupun kalo kita masih percaya adanya hari dimana semua perbuatan dipertanggungjawabkanemoticon)

3.Larang kemaksiatan2 lainnyaemoticon

 

 

emoticon


Menimbang Ulang Pendekatan Sosial Kultural Dalam Mendakwahkan Islam??

November 10, 2008 – 7:42 am

        Allah SWT telah memerintahkan kita untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri tauladan dalam kehidupan kita, tidak hanya dalam masalah ibadah dan akhlaq beliau yang sangat mulia namun juga dalam seluruh aspek kehidupan. Dimana Rosulullah SAW diutus oleh Allah untuk menyampaikan risalah Islam yang sempurna sebagaimana yang telah dipastikan sendiri oleh Nya dalam qs.Al-maidah : 3 bahwa sesungguhnya Allah telah menyempurnakan Islam sebagai agama yang satu-satunya diridhai disisi Allah, Tuhan Semesta alam. Dan Islam telah mewajibkan umatnya untuk berIslam secara kaffah. Inilah yang menjadi ibroh dari pengutusan seorang Rosul, sebagai subyek yang memodelkan risalah Sang Pencipta dalam kehidupan nyata. Demikian pula dalam aspek dakwah Islam. Maka rosulullah SAW adalah model acuan yang semestinya kita teladani dalam berdakwah.
         Tentunya, hal ini memerlukan pengkajian yang mendalam atas perjalanan rosulullah yang terhimpun dalam kisah perjalanan kenabian Muhammad (siroh nabawiyyah) yang sarat muatan hukum, sehingga kita mampu mengekstraksinya dalam bentuk formula2 dakwah dan mengimplementasikannya secara nyata di medan perjuangan ini. Pengkajian yang dangkal atas perkara ini akan mengantarkan kita pada kekeliruan dalam memahami dakwah Islam bahkan bisa mengantarkan pada kekeliruan dalam amal dakwah. Terlebih lagi, pada masa ini, dimana ide-ide kufur dan falsafah-falsafah kehidupan asing bebas berkeliaran bak virus yang susah dihindari. Realita ini bisa saja mengaburkan pengemban dakwah Islam dari pandangan yang jernih, arus anginnya bisa saja melenakan atau bahkan menghanyutkan kita, hingga terbawa dengan kondisi yang semestinya ditundukkan oleh dakwah Islam tapi malah justru sebaliknya.
           Oleh karena itu seorang pengemban dakwah Islam harus menjaga kesucian pemikirannya dari kotoran dan debu pemikiran kufur, kebiasaan/adat jahiliyyah yang telah berakar ditengah-tengah masyarakat. Ia harus menjaga kelurusan pemikirannya agar tetap berjalan di atas rel metode kenabian tanpa keluar seujung rambut pun, tanpa memikirkan ajakan dan rayuan gombal orang-orang kafir yang tak senang pada Islam tanpa memikirkan hinaan dan nistaan dari kalangan orang-orang yang suka mencela.Tanpa mempertimbangkan kerugian yang akan dirasakannya atau keuntungan yang akan diraihnya, sebab ia yakin bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang bersabar.
             Keyakinan yang kokoh atas pertolongan Allah dan keistiqomahan untuk berjalan lurus pada metode dakwah inilah menjadi rahasia keberhasilan dakwah nabi Muhammad dan para shahabat. Bukankah ketika itu Rosulullah dihadapkan dengan fakta masyarakat Arab yang tidak beradab alias barbar bahkan tak pernah sedikitpun diperhitungkan dikancah politik dunia ketika itu? Ya, benar. Masyarakat Arab masa itu kental dengan budaya berperang, menyembah berhala, membunuh anak-anak perempuan mereka, suka meramal nasib dengan anak panah, berjudi, mengurangi timbangan, hobi berzina dan minum-minuman keras, merendahkan martabat wanita dan adat kebiasaan lainnya yang amat rendah. Itulah kondisi sosial kultural masyarakat Arab sebelum datangnya Islam. Siroh nabawiyyah karangan Ibnu Hisyam memaparkan secara detail bagaimana Rosulullah SAW melawan arus opini dan adat istiadat saat itu. Banyak ayat-ayat Al-qur’an yang turun dengan terang-terangan menentang, menghinakan, merendahkan dan membongkar kerusakan adat dan hukum jahiliyyah pada masa itu.
                   Resikonya tentu tidaklah ringan. Bilal bin Rabbah ra (Shabat rosulullah SAW) harus menanggung panas terik dan sakit yang amat sangat akibat dadanya ditimpa batu besar sedang ia ditelentangkan di atas gurun pasir yang gersang, hanya karena ia bersaksi bahwa Allah itu esa. Keesaan Tuhan adalah ide yang bersebrangan secara kontras dengan ide yang sudah turun temurun diyakini masyarakat Arab bahwa Tuhan itu berbilang, bukan satu. Atau bagaimana pula dengan keluarga Yasir yang ditimpa siksa amat kejam, hingga akhirnya Amr bin Yasir harus kehilangan ayah dan ibunya (mereka mati syahid) karna mempertahankan keyakinannya bahwa tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah? Sungguh bayaran yang amat mahal, itu semua karna keyakinan mereka yang melawan arus keyakinan masyarakat yang selama ini percaya bahwa hukum nenek moyang adalah hukum yang tak tergantikan. Atau bagaimana pula dengan cercaan, makian, hinaan dan perlakuan buruk yang dirasakan Nabi sebagai akibat dakwah Islamnya? Beliau bahkan dijadikan common enemy (musuh bersama) para pemuka quraisy bahkan target operasi pembunuhan, itu semua karna risalah yang Beliau bawa, sungguh-sungguh melawan arus yang ada, benar-benar berbeda dengan adat dan hukum yang telah lama ada. Lalu apakah itu semua menggentarkan beliau? Kalau saja iya, maka hari ini, kita tidak akan pernah merasakan nikmat sebagai seorang muslim. Rosulullah tetap konsisten pada jalannya, Ia yakin bahwa Allah akan menolongnya, tiada daya upaya tanpa kekuatan Allah. Beliau ubah paradigma masyarakat arab mekkah dengan tanpa ragu-ragu mencabut pemikiran-pemikiran kufur dari akar-akarnya kemudian menggantikannya dengan pemahaman Islam hingga Islam menjadi pedoman hidup mereka. Beliau mobilisir para shahabat guna membantu beliau mencari dukungan terhadap dakwah Islam kepada tokoh-tokoh terkemuka quraisy. Walau godaan dan halangan merintangi, rasul dan para shahabat tak bergeming, tak mengenal kompromi yang mencampur adukkan yang haq dan bathil. Hingga akhirnya perjuangan rosulullah berbuah manis dengan datangnya Nashrullah dukungan penduduk Madinah sampai hijrah dan berdirinya negara Islam Madinah .
            Demikianlah semestinya yang semestinya dilakukan oleh seorang pengemban dakwah masa kini. Sekalipun zaman telah berubah dan teknologi semakin berkembang, sebenarnya potensi hidup yang dimiliki manusia tetaplah sama, manusia masa lalu butuh makan, manusia masa kini juga. Yang berubah adalah cara/alat pemenuhannya saja, dulu tidak ada yang makan ayam kentucky (ayam tepung), namun sekarang mayoritas manusia moderen umumnya senang makan ayam kentucky (ayam tepung) tsb. Dakwah pada masa kini, ketika sistem Islam belum tegak (lagi) dan bercokol hukum barat (jahiliyyah), memiliki relasi yang cocok dengan kondisi masyarakat mekkah pada masa Rasulullah SAW dari aspek sama2 tidak bernaung di sistem Islam. Oleh karena itulah metode dakwah Nabi, tetap relevan dijadikan rujukan. Sehingga pengemban dakwah tidak terjebak dalam dakwah yang ikut pada kondisi masyarakat (padahal kondisi/kebiasaan masyarakat itu jauh dari nilai2 Islam…).
             Semestinya sosial kultural masyarakat tsb kita ubah agar sesuai dengan Islam, bukan sebaliknya, sekalipun besar resikonya. Cara / pendekatan yang kita gunakan dalam menyampaikan Islam semestinya tidak mengaburkan Islam itu sendiri, tindakan ini bisa menyesatkan/membingungkan umat. Katakanlah kebenaran dengan lugas-tegas, tegurlah kemungkaran dengan keberanian yang bersumber pada iman, inilah yang akan mempercepat proses pencerdasan umat dan mengangkat umat Islam dari lumpur kejahiliyyahan. Hasil dakwah, baik penerimaan ataupun penolakan dari masyarakat semestinya tidak dijadikan ukuran untuk mengukur keberhasilan dakwah. Proses adalah orientasi/titik tekan dakwah, apakah proses transformasi konsep-konsep kehidupan Islam sudah berjalan dengan baik atau belum. Sudahkah penyampaian pemikiran-pemikiran tersebut menggugah kesadaran umat? Sudahkah dakwah ini disampaikan dengan memperhatikan taraf berfikir umat yg berbeda-beda secara sunatullah? Respon masyarakat (Penerimaan ataupun penolakan) dievaluasi, apakah itu terjadi karna kesalahpahaman, atau lemahnya pemahaman Islam masyarakat atau karna ada sebuah rekayasa opini dari para penjajah, atau karna hal lainnya.
           Evaluasi dilakukan tidak untuk menyalahkan materi dakwahnya yang notabene merupakan pemikiran-pemikiran Islam yang bersumber dari al-quran & Sunnah. Komentar orang ramai hendaknya tidak menjadi poros untuk mengukur tindakan terpuji atau tercela kah dakwah yang kita lakukan. Dakwah adalah semata-mata karna Allah, sebab Allah telah menyatakan bahwa mereka orang-orang yang beriman itu tak putus asa dan bersedih hati atas komentar manusia2 yang lain. Jadi, keberhasilan dakwah terukur sesuai dengan derajat perubahan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Insya Allah


Bagaikan Bercermin

February 14, 2008 – 10:04 am

Seperti bercermin

 
Pernahkah Anda bercermin? Tentu pernah bukan? Apalagi jika Anda hidup di zaman modern dimana penampilan sangat diperhitngkan. Bahkan ada yang merasa tidak percaya diri jika tidak bercermin terlebih dahulu. Yaa..cermin dengan pantulan cahayanya mampu menambah rasa optimis dan percata diri seseorang. Kenapa sih kita perlu bercermin? Tentu saja untuk melihat penampilan kita, sudah pantas kah atau perlu dikoreksi, walaupun terkadang sedikit tidak puas melihat penampilan yang masih terasa kurang indah di mata namun tak seorang pun yang menyalahkan si cermin. Cermin akan memantulkan objek yang dikenai cahaya, apa adanya. Tanpa basa-basi atau rasa sungkan. Cermin bahkan terlalu jujur untuk berkata ’sesuatu’ yang kadang terasa nyaman atau kesal di hati. Filosofi certmin adalah refleksi dari kehidupan riil di tengah-tengah kita. Kritik bagaikan cermin yang mampu memantulkan informasi-informasi masukan bagi diri kita. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Tapi tak jarang, kita alergi terhadap kritik, tapi senang sekali bercermin. Namun, memang adalah wajar. Setiap manusia memiliki naluri eksitensi diri. Jika naluri ini digugat maka salah satu aktualisasinya adalah penolakan,

Sudah saatnya tidak lagi ber negative thingking terhadap masukan ataupun kritik..mm memang kebenaran itu terkadang pahit kawan! 

 

 


Bagaimana Mahasiswa Ilmu Komputer Belajar

November 27, 2007 – 4:24 am

Mengkritisi Kurikulum dan Gaya Pendidikan Kita
(disadur dari tulisan Romi Satria Wahono pada the February 27th, 2006)

Sepulang dari study di Jepang tahun 2004, saya banyak mengajar di beberapa Universitas di Jakarta, terutama di fakultas atau jurusan yang berhubungan dengan ilmu komputer dan teknik informatika. Saya mengajar mata kuliah yang memang saya kuasai, dan terkait langsung dengan tema penelitian saya. Diantaranya adalah mata kuliah Software Engineering (Rekayasa Perangkat Lunak), Algoritma dan Bahasa Pemrograman (Algorithm and Programming Language), dan Basis Data (Database). Kebanyakan mata kuliah tersebut diajarkan setelah semester 5 (tingkat 3 atau 4). Dalam interaksi belajar mengajar di kelas, saya menemukan beberapa fenomena menarik berhubungan pengetahuan mahasiswa dan kurikulum yang diajarkan di universitas.

Saya menemukan tipe mahasiswa yang ketika saya terangkan dia kesulitan menangkap beberapa konsep yang seharusnya sudah dia dapat di semester sebelumnya. Katanya, itu tidak diajarkan di universitas tersebut. Fenomena ini terjadi dalam universitas yang memotong (mengubah) beberapa kurikulum yang seharusnya diajarkan, karena tidak ada SDM pengajar (dosen). Di lain pihak, saya menemukan fenomena lain dimana mahasiswa mengatakan bahwa dia mengenal beberapa konsep yang saya singgung, hanya dia lupa mata kuliah yang mengajarkannya. Fenomena ini terjadi di universitas yang mencekoki mahasiswanya dengan mata kuliah berlebih, dengan argumentasi bahwa supaya mahasiswa mendapat pengetahuan secara lengkap. Sering dosen mengajar bukan pada bidang yang dikuasai, hal itu terpaksa dilakukan oleh universitas untuk mengejar mata kuliah yang harus jalan. Dua-duanya ternyata membuat mahasiswa jadi linglung, yang satu linglung karena memang tidak pernah diajarkan, dan yang lain linglung karena terlalu banyak yang diajarkan. Intinya sih kedua-duanya sama-sama nggak ngerti ;) .

Fenomena aneh lain tentunya masih banyak, misalnya mahasiswa tingkat 3 jurusan teknik informatika (atau ilmu komputer) yang tidak kenal siapa Dennis Ritchie ;) , tidak bisa membuat program meskipun hanya untuk sebuah fungsi untuk memunculkan Hello World (apalagi mengkompilenya), tidak paham tentang paradigma pemrograman, juga tidak paham apa itu kompiler, shell, pointer, fungsi, array, dan tentu semakin mual-mual kalau saya sebut algoritma atau struktur data :( .

Bagaimana seorang mahasiswa Ilmu Komputer belajar? Saya mencoba memberi gambaran umum dengan mengambil studi kasus bagaimana jurusan ilmu komputer di Saitama University mengatur kurikulumnya. Saitama University bukan termasuk universitas yang terbaik untuk ilmu komputer, umurnya masih sangat muda dengan SDM pengajar (professor) yang juga terbatas, bahkan beberapa professor diambil dari jurusan elektro untuk beberapa mata kuliah tertentu. Ini tidak mengurangi keseriusan universitas untuk menyajikan pendidikan dan kurikulum terbaik untuk mahasiswa-mahasiswanya.

Saya mulai program undergraduate (S1) di Department of Information and Computer Sciences, Saitama Univesity tahun 1995. Tingkat I (semester 1 dan 2), mata kuliah dasar (kiso kamoku) sangat dominan. Kalkulus, statistik, probabilitas, fisika dasar, kimia dasar, discrete mathematics, dan mata kuliah dasar lain banyak diajarkan. Semester 2 sudah ada beberapa mata kuliah jurusan (senmon kamoku) yang diajarkan, diantaranya adalah bahasa pemrograman, bahasa C (prosedural), HTML, dengan praktek lab untuk mengenal Unix, shell, text editor (emacs), laTeX (TeX), gnuplot, kompiler, teknik typing 10 jari, dsb. Pada saat masuk tingkat II (semester 3), saya menyadari bahwa mata kuliah tingkat I membekali saya dengan beberapa tool dan konsep dasar, sehingga saya bisa survive mengikuti proses belajar mengajar di tingkat selanjutnya. Lab komputer hanya berisi Unix terminal. Seluruh laporan dan tugas harus ditulis dengan laTeX dengan text editor emacs, apabila memerlukan bahasa pemrograman harus dibuat dalam bahasa C dan dikompilasi dengan GCC. Apabila ada data yang harus ditampilkan dalam bentuk grafik, bisa menggunakan Gnuplot. Setiap mahasiswa harus mempunyai situs web (homepage), dimana selain berisi aktifitas pribadi, juga berisi seluruh laporan dan tugas yang dikerjakan. Selain lewat situs web, laporan harus dikirim dengan menggunakan email ke professor pengajar, dalam format PS atau PDF dengan source dari laTeX.

Yang menarik, bahwa gaya pendidikan yang ditempuh menganut konsep korelasi, berhubungan, saling mendukung dan terarah dari semester 1 sampai akhir. Skill terhadap komputer dan bahasa pemrograman juga cukup dalam, karena ada kewajiban menguasai bahasa C, HTML, Unix, Linux, Shell, dsb yang bukan untuk ritualitas mata kuliah semata, tapi untuk bekal sang mahasiswa supaya bisa survive di jenjang semester berikutnya. Apakah tidak diajarkan paradigma dan bahasa pemrograman lain? jawabannya adalah diajarkan, tetapi untuk konsumsi mahasiswa tingkat 3 (semester 5 dan 6). Pemrograman berorientasi objek (Java), functional programming (LISP dan Scheme), dan Prolog diajarkan pada semester 5 dan 6 untuk membidik supaya sang murid “nyantol” ketika mengikuti mata kuliah Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) dan Rekayasa Perangkat Lunak (Software Engineering). Dan dengan sebelumnya menguasai bahasa prosedural seperti C, kita semakin “ngeh” tentang pentingnya paradigma berorientasi objek ketika mendalami mata kuliah tentang pemrograman berorientasi objek.

Korelasi mata kuliah ini nampak juga dari deretan gaya pengajaran, setelah mahir berbahasa C, kita diminta ngoprek Minix yang terbuat dari bahasa CÂ (sistem operasi buatan Andrew S. Tanenbaum, yang menginspirasi Linus Torvald membuat Linux) pada mata kuliah Operating System (Sistem Operasi), membuat sendiri shell (dengan fungsi yang mendekati bash dan cshell) diatas sistem operasi yang sudah kita oprek, dan diminta mendesain dan mengembangkan bahasa pemrograman sendiri di mata kuliah Compiler Engineering (teknik kompilasi). Berurutan, berhubungan, tetap fokus dan mendalam, itu mungkin resep desain kurikulum yang diajarkan.

Pada saat tingkat 2 dan 3 itulah sang mahasiswa diarahkan untuk menuju arah kompetensi sesuai dengan yang diinginkan. Dan yang pasti, hampir seluruh mahasiswa mendapatkan “bekal” dan “skill” yang relatif sepadan untuk bergerak. Mahasiswa yang ingin melanjutkan karier menjadi seorang Programmer, disiapkan mata kuliah Struktur Data, Algorithm, Programming Language, Compiler Engineering, Automaton dan Formal Language. Yang ingin jadi Software Engineer, harus fokus mengikuti mata kuliah Software Engineering, Industrial Software Engineering, System Development Engineering, Software Project Management, dsb. Yang ingin berkarier di perusahaan animasi dan grafis, harus serius mengikuti mata kuliah Computer Graphics, Image Processing, CAD Enginering, Pattern Recognition, dsb. Yang siap bergelut di perusahaan Telekomunikasi, harus melahap mata kuliah Information Theory, Communication System, Signal Processing, Speech Processing, dsb. Yang ingin ke arah Hardware, harus menguasai mata kuliah Electronic Circuits, Electronic Devices, Computer Architecture, Quantum Mechanics, Logic Circuits, dsb. Bagaimana dengan yang tertarik dengan Kecerdasan Buatan? harus mau berpusing-pusing ria di mata kuliah Artificial Intelligence, Expert System, Knowledge Engineering, Neural Network, dsb.

Rencana pengembangan karier ini semakin matang dan tertata ketika masuk ke tingkat 4, seluruh mahasiswa harus menjalani 1 tahun terakhir di grup penelitian yang dipimpin oleh seorang professor. Penelitian dan thesis (tugas akhir) sifatnya wajib dilakukan, untuk memperdalam dan memahami implementasi riil dari bidang ilmu peminatan yang direncanakan dan dicita-citakan sang mahasiswa. Apa itu bidang ilmu peminatan? Ya bidang yang sudah saya sebut diatas tadi. Programming, Software Engineering, Communication System, Computer Graphics, Artificial Intelligence, Computer Hardware, Networking, dsb. Masing-masing professor dengan grup penelitian biasanya fokus di satu atau dua bidang ilmu peminatan, termasuk didalamnya penelitian yang dilakukan dan mata kuliah yang diajar. Tidak ada seorang professor Software Engineering yang mendapat jatah mengajar mata kuliah Computer Graphics, karena memang bukan bidangnya. Kalaupun bisa memberikan, tentu tidak menguasai the root problem (akar permasalahan) yang ada di bidang tersebut, ini yang membuat mata kuliah jadi hambar, tidak mendalam dan mahasiswa jadi bingung memahami apa hakekat dari mata kuliah tersebut.

Jadi masing-masing mata kuliah ada arah, ada desain yang ingin dicapai, dan ini yang dijelaskan di awal perkuliahan. Tidak ada kegiatan OSPEK yang berisi penyiksaan dan penghinaan, tidak ada hura-hura pesta masuk perguruan tinggi, yang ada adalah penjelasan tentang kurikulum secara komprehensif. Sang mahasiswa ingin menjadi apa, tertarik di bidang apa, itu yang dibidik dan diarahkan oleh universitas dengan penjelasan desain kurikulum beserta dengan mata kuliah apa yang sebaiknya diambil oleh sang mahasiswa. Jumlah kredit untuk syarat kelulusan S1 juga tidak sepadat Indonesia, hanya sekitar 118, sudah termasuk didalamnya penelitian dan tugas akhir yang dihitung sekitar 10-12 kredit. Jadi total kredit dari mata kuliah hanya sekitar 106. Kelonggaran waktu yang ada dapat kita gunakan untuk kerja parttime di perusahaan-perusahaan IT, mengasah kemampuan jadi programmer, network engineer, admin, software designer, dsb. Mahasiswa mendapatkan konsep di kelas, dan mematangkan diri di lapangan, tempat kita menggarap project maupun tempat kerja. Itu adalah strategi penting dalam mengkader para computer scientist.Â

Universitas di Indonesia yang membuka fakultas/jurusan Ilmu Komputer dan Teknik Informatika harus berbenah. Tidak hanya berambisi mengejar jumlah murid karena konsep aji mumpung (mumpung TI sedang booming, terima mahasiswa sebanyak banyaknya :( ), tapi juga harus bertanggungjawab terhadap figur dan karakter hasil didikan dan lulusan universitasnya. Untuk para calon mahasiswa, pilihlah Universitas yang memiliki kurikulum dan dosen pengajar yang baik. Jangan memilih jurusan karena trend, ikut-ikutan teman, atau alasan tidak logis lainnya. Pilihlah karena memang kita berminat untuk berkarier di bidang tersebut.

 Komentar : Hmm saya ikut terhenyak ketika membaca artikel ini…….tapi betul sekali! emang begitu kondisinya….emoticon emoticon

 


MALES MIKIR=CEPAT PIKUN

September 20, 2007 – 7:07 am

JANGAN MALES MIKIR!!! (awas pikun)

    Dua minggu lalu, penulis berkunjung ke fakultas psikologi UII. Ada kolom menarik yang disajikan oleh mading salah satu UKM di sana. sebuah judul dengan isi yang lucu namun satire. Intinya kolom tersebut ingin menyampaikan bahwa orang Indonesia cenderung dapat berbicara tanpa menggunakan otak! atau ada juga anekdot tentang susunan otak otang Indonesia yang selalu rapi. apakah itu yang dimaksud dengan tong kosong nyaring bunyinya?

   Terlepas dari itu, pernahkah kita bertanya, apa sih yang dimaksud dengan berfikir? apakah otak tempatnya akal? apakah sama antara berfikir dan ber-akal? apa setiap otak bisa berfikir? duh…pusing (bisa jadi itu yang muncul di benak kita). Walaupun kita selalu melakukan aktifitas ‘mikir’, tapi mungkin saja pertanyaan-pertanyaan tadi tidak terlintas dalam pemikiran kita. Wah repot! kehidupan ini dah cukup ribet dan pusing dengan permasalahan-permasalahan kehidupan, jadi cenderunya manusia zaman ini lebih pragmatis, instan dan realistis. Ternyata! dengan mengetahui hakikat berfikir kita bisa lho meningkatkan kecepatan berfikir (kaya prosesor aja "_"….).

  Otak manusia vs Otak hewan
 Apa si yang membedakan manusia dengan hewan? tentu saja pada akalnya. Sang pencipta telah memilih manusia sebagai makhluq yang paling tinggi derajatnya justru karna keberadaan akal. Kucing, ayam, monyet dkk, mereka semua tidak punya akal. Sehingga wajar, kalo kita tidak akan pernah menemukan peningkatan gaya hidup dari hewan-hewan tersebut. Jika nenek moyang mereka gak pake baju, maka sekarang pun gak ada kucing yang pake baju (dengan kesadaran sendiri) kecuali dalam kontes kucing indah. Padahal, bukankah kucing itu punya otak? yup..sudah pasti. Gajah juga punya otak, bahkan lebih besar dari otak manusia, tapi tetap aja gajah tidak bisa mikir. Lho! bukannya di Lampung ada sekolah buat gajah? apa itu bukan pembuktian bahwa gajah bisa mikir? pertanyaan ngawur bisa aja muncul, ya..besok gajahnya bisa daftar jadi asdos atau jadi dosen/tutor buat teman-temanya (^_^). Hewan-hewan yang ada di sirkus atau di sekolah tersebut dilatih dan dirangsang instingnya (daya kepekaan nalurinya) dengan tehnik pengulangan aktifitas. Seekor gajah dilatih untuk duduk, berulang-ulang latihan tadi dillakukan mungkin butuh bulanan, jika ia salah dalam melakukan instruksi maka ia tidak mendapat makanan, jika sebaliknya maka makanan adalah reward baginya. Kesimpulannya tidak melibatkan akal. Seperti halnya bayi, walaupun manusia tapi bayi belum sempurna akalnya alias belum mampu berfikir, jika ingin sesuatu maka ia akan menangis, merengek, itulah respon nalurinya. Maka, tidak semua yang berotak punya akal.

Proses berfikir = akal

    Lalu, apa sih akal itu? akal adalah kemampuan untuk berfikir. Trus apa sih berfikir itu? bagaimana prosesnya terjadi? Sebenarnya kasus ini bisa kita pecahkan dengan mengamati (observasi) realitas. Kasusnya sbb: ada 3 orang manusia (A, B,C) yang dijadikan sample dengan latar belakang yang berbeda. Keduanya sama-sama kita berikan sebuah objek untuk diamati dan disimpulkan objek tersebut apa, misalnya bluethoot. Si A terus saja mengamati dan akhirnya menyimpulkan bahwa benda tersebut adalah flash disk untuk menyimpan data, sekilas memang terlihat mirip, telebih lagi karna A selalu menggunakan flash disk untuk kebutuhan kuliahnya. Si B benar-benar bingung, ia bahkan sama sekali belum pernah melihat benda tersebut, belum pernah ada di desanya benda seperti itu. Bagaimana dengan si C, wah..kalo dia si langsung bisa menjawab, bahwa benda tersebut adalah bluethooth terlebih lagi dia selalu memakainya sebagai alat bantu pekerjaannya di sebuah perusahaan IT terkenal. Apa yang membut kesimpulan mereka bertiga berbeda? ternyata tidak semua dari mereka pernah berinteraksi dengan benda tersebut, otomatis tidak semua dari mereka yang memiliki informasi tentang benda tersebut. Maka apakah orang-orang dalam sample tersebut melakukan proses berfikir? tentu yes! Nah dari kasus di atas bisakah kita merumuskan apa sih akal/berfikir itu? apa saja si yang dilibatkan dalam proses tersebut? yup jika dirumuskan maka di dapatkan sbb:

1. tentu saja ke 3 sample tersebut mesti memiliki objek untuk difikirkan (untuk bisa diteliti, diujicoba dll)

2. Ada panca indra (penglihatan, peraba, perasa, pendengaran dll) agar objek tersebut bisa diamati, diteliti dll. Namun buka berarti panca indranya mesti lengkap lho, sebab tidak semua panca indra dipakai dalam 1 waktu. Realitanya panca indra manusia itu terbatas, maksudnya ia dapat berfungsi dengan baik, jika obyek yang diindera memang mampu di jangkau panca indra. Contoh: telinga adalah indra pendengaran, tentunya memiliki ambang batas pendengaran, maksudnya telinga manusia hanya mampu mendengar hingga radius sekian dan pada gelombang sekian.

3. Ada informasi yang terkait dengan objek pemikiran kita, misal pada kasus di atas hanya C yang memiliki info tentang bluetooth 

4. Harus ada otak. Mengapa? otak ibarat prosesor, tempat menyimpan sejumlah informasi dari objek yang difikirkan. Menurut ilmu biologi, Di otak pula tejadi proses pengkaitan antara objek yang di indra dengan informasi yang tersimpan di dalam memory internal otak melalui sinyal-sinyal. Jika informasi tsb ada, maka objek tersebut bisa didefenisikan. Dan tentu saja otak tersebut mestilah sehat, jika tidak, maka proses pengkaitan ini akan menjadi tidak sempurna. Contoh orang yang mengalami kerusakan otak, mestilah menurun daya berfikirnya (alias menurun kapabilitas pengkaitan info dengan objek).

  Akhirnya…
 
  Jadi…aktifitas berfikir bisa berlangsung selama keempat komponen di atas terpenuhi keberadaannya. Jika salah satu saja syaratnya tidak terpenuhi, maka tidak sempurnalah proses berfikirnya. Pada kasus di atas si B tidak bisa melakukan proses berfikir, sedang si A tidak sempurna prosesnya sehingga kesimpulan yang ia berikan salah, sekalipun ia sudah berusaha. Berbeda denga C, ia tepat dengan jawabannya, karna sempurna proses berfikirnya. Jadi sekali lagi akal itu tidak berada di otak, tidak semua otak bisa berfikir, otak hanyalah tempat bertemunya/pengkaitan sejumlah informasi yang telah direkam.dengan kata lain, otak adalah hanya salah satu komponen akal/berfikir. Dengan logika kita juga bisa mengatakan bahwa akal tidak bertempat di kepala atau di hati atau di tempat manapun. Akal itu abstrak, tidak diketahui tempatnya, namun bisa dirasakan pengaruhnya.

     Pepatah lama berpesan agar kita sering-sering mengasah otak kita agar pintar, maksudnya sering-seringlah berfikir sebab sebuah penelitian menyatakan banyak kasus kepikunan salah satu penyebabnya adalah dimulai dari semakin minimnya aktifitas berfikir (otak menganggur). Dari artikel yang pernah saya baca: Istilah pikun ini dikenal sebagai Alzheimer. Yaitu Ketidakmampuan untuk mengingat kejadian-kejadian yang belum lama berlalu. Pada otak orang makin menua, cenderung terjadi penurunan fungsi otak. Apabila tidak dicari solusi pencegahannya akan timbul pola “plak” amyloid protein. Kerusakan mulai terjadi pada bagian tengah otak yang disebut temporal. Kerusakan ini mempengaruhi sirkuit-sirkuit yang menyimpan ingatan akan kejadian-kejadian pada masa lalu. Kemampuan untuk menemukan kata-kata untuk menyebut objek-objek yang biasa mulai melemah, Pada pola yang lebih parah diikuti dengan ketidakmampuan untuk mengenali orang-orang dan tempat-tempat yang sudah diakrabi atau bahkan tidak mengetahui kegunaan cangkir kopi. Konon kondisi ini merupakan warisan secara genetis namun bisa dicegah dengan menjaga pikiran tetap aktif.(http://anangku.blogspot.com/2006/08/tentang-otak-dan-pikun.html)

    So…masih males mikir????

 


“Multitasking” human

September 11, 2007 – 7:46 am
"MULTITASKING" GAK CUMA PADA KOMPUTER LHO..
 
    MULTITASKING?! mungkin jika kita tidak berlatarbelakang IT or ilmu komputer dan sejenisnya, terasa asing di telinga. Yup, benar! konsep ini diperkenalkan pada mata kuliah SISTEM OPERASI, diberikan untuk bidang ilmu IT, ilmu komputer dan yang terkait dengannya. Wait! tunggu dulu..tulisan ini dibuat bukan dalam rangka kuliah SISTEM OPERASI lho! tapi..guna membandingkan sekaligus menganalogikan konsep multitasking pada komputer dengan the real time of human life. But..apa sih MULTITASKING??? multitasking itu menjalankan dua atau lebih program dalam sebuah komputer pada saat yang bersamaan. Maksud loo?!  Sekarang, semua komputer bisa melakukan berbagai aktivitas  bersama-sama, bisa nge-print nyambi dengerin lagu plus ngetik or main game. Berapa banyak program yang dapat secara efektif di multitasking, tergantung dari tipe multitasking performed (preemptive vs Cooperative), kecepatan CPU dan memori serta kapasitas harddisk.
    Bicara tentang komputer emang gak ada habisnya. Tapi..pernahkah kita berfikir, bahwa komputer itu hanya buatan manusia yang serba terbatas. Agar tetap mampu mengikuti perkembangan zaman, tuntutan kebutuhan manusia, ia perlu selalu di-update, di-upgrade prosesornya, di-maintain sistemnya dll. Bandingkan dengan manusia. Kalo komputer aja bisa multitasking, gimana dengan kinerja manusia? Era globalisasi ini, memaksa manusia untuk memiliki keahlian khusus hanya di satu bidang, beragam sertifikasi keahlian spesifik pun banyak ditawarkan. Perusahaan besar pun dominannya mencari orang-orang dengan kemampuan spesifik pada bidang tertentu. Barat bahkan telah sejak bertahun-tahun lalu merancang model pendidikan dengan spesifikasi tertentu bagi siswa-siswanya, bahkan dari sejak pendidikan dasar. Bukan hal yang baru kalo banyak pelajar di barat minim pengetahuan umumnya/global, tapi "luar biasa" pengetahuan spesifikasinya. Sehingga wajar, kalo kita sulit menemukan manusia-manusia multi-talent alias multitasking, dengan prinsip kerja seperti pada teori di atas. Kita jarang menemukan (atau mungkin malah gak ada ya…) seorang sarjana arsitek sekaligus sarjana kedokteran plus politikus, sastrawan, dan di saat yang sama ia adalah ahli fiqh Islam dan tafsir qu’an/agamawan. Wow! amazing! so complicated!
    Umum terjadi, antar orang yang mendalami bidang ilmu tertentu, menjadi awam (kalo bisa dikatakan tidak begitu peduli) dengan bidang ilmu yang lain. Standar kewajarannya adalah "apa valuenya? apa benefitnya kita mengetahui hal tsb? apa sesuai or mendukung karier saya"? kewajaran yang lain adalah sangat sulit bisa menempuh berbagai bidang ilmu or beragam aktivitas yang sekilas bertolak belakang atau tidak memiliki relasi. Kewajaran berikutnya adalah "apakah usia kita masih cukup, masih diizinkan untuk menempuh bidang ilmu-bidang ilmu tersebut, sarjana komputer saja sudah makan waktu 4 tahun, belum lagi kuliah kedokteran sekitar 6 tahun..bla..bla". Tentu saja..apalagi mahalnya biaya untuk menjadi "orang pintar" menambah panjangnya daftar kewajaran.
    Otak manusia sangat istimewa. Anda tidak perlu melakukan partisi atau manajemen memory (seperti pada komputer) untuk mengoptimalkan fungsi otak. Mungkin mencapai bertrilyun-trilyun memori mampu disimpannya, sejak bayi hingga usia renta. Tak perlu anda repot meng-upgrade, atau install ulang. Maka, sangat logis jika manusia bisa memikirkan dan melakukan apa saja selama di dalam batas/kapasitas kemampuan sistem organ tubuhnya. Selama saratnya terpenuhi, yakni otak yang sehat, panca indra yang sehat, informasi dasar yang cukup dan keberadaan obyek pemikiran, maka manusia bisa melakukan apa saja, termasuk memiliki keahlian-disiplin ilmu yang beragam.
    Sejarah mencatat, berabad-abad yang lampau,ketika eropa masih pulas dengan DARK-Age-nya, pada masa ke-khilafahan Islamiyyah periode Abbasiyah (sekitar abad ke 11 M s/d abad ke 15 M), kota Baghdad dan Spanyol (Andalusia) pernah mengukir tinta emas kejayaan intelektualitasnya. Peradaban kala itu mampu mencetak tidak sedikit kaum intelektual multitalent alias multitasking. Salah satunya ialah Ibnu Sina  (Aviciena, sebutan orang barat padanya). Ia adalah ilmuwan muslim, bapak kedokteran peletak konsep-konsep ilmu kesehatan, penemu sistem anatomi tubuh manusia, yang hingga kini masih menjadi acuan universitas-universitas terkemuka di dunia. Ia juga seorang filosof muslim (mengeluarkan buku-buku filsafat), sastrawan dan pada saat yang sama juga memahami konsep-konsep agamanya (Islam). Biayanya??? Sekolahnya??? gak perlu repot..karna pada masa itu pendidikan gratis-tis-tis. Hebatnya lagi anda akan dibayar jika menulis buku, makalah dll seberat apa yang anda karyakan. Sesuatu yang luar biasa! penghargaan atas intelektual. Pusing cari donatur untuk penelitian or pusing cari lab untuk penelitian? gak bakal kita temukan, sebab laboratorium, perpustakaan tersedia 24 jam dan anda pun di bayar.
   Hemm..bukan untuk romantisme masa lalu, tapi alangkah indahnya jika hal itu ada sekarang…, so..multitasking human memang berat, jika tidak didukung keadaan dan sistem kehidupan. Modal kesungguhan itu penting, tapi ternyata berbekal itu saja tak cukup my friend….
 
by owner
 

Sambut Ramadhan

September 5, 2007 – 6:40 am

PREPARE TO RAMADHAN

Subhanallah! tak terasa waktu bergulir, waktu kan mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan. kira-kira kurang dari 2 minggu lagi umat muslim di seluruh dunia akan menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Lalu apa yang telah/sedang or akan persiapkan? paling tidak, ramadhan tahun ini telah disambut dengan naiknya sejumlah harga barang pokok, naiknya tarif tol JORR, polemik seputar konversi minyak tanah ke gas dan langkanya minyak tanah. Hmmm..sepertinya kehidupan menjelang ramadhan-idul fitri terlihat semakin suram. Hanya mengeluh..tidak akan bisa menyelesaikan persoalan.Nah..mari kita lihat bagaimana Rosulullah dan para shahabat mempersiapkan diri menyambut Ramadhan.

Persiapan itu bukan bersifat materi

    Lumrah dipahami masyarakat awam kita, datangnya Ramadhan-Idul Fitri berarti meningkatnya sejumlah kebutuhan hidup. Yakni, tuntutan menu buka puasa yang  istimewa, persiapan baju lebaran, menstok sejumlah bahan pokok sejak dini, menstok kue lebaran, mengecat rumah, kalo perlu ganti perabotan hingga harapan naiknya pesangon/THR tak ketinggalan angpow untuk keponakan tercinta. Tanpa sadar kadang menghilangkan kekhusukan ibadah di bulan Ramadhan.

Persiapkan diri dari jauh-jauh hari 

    Jangan kalah sebelum berperang. Benar, sebentar lagi kita akan memasuki medan pertempuran. Bukan Belanda , Jepang apalagi AS yang menjadi musuhnya tapi hawa nafsu diri sendiri. Peperangan akan dimenangkan tergantung seberapa jauh persiapan. Raosulullah SAW telah mendidik para shahabat agar mempersiapkan diri menuju Medan Ramadhan dari sejak bulan Rajab-Sya’ban. Bahkan ketika bulan sya’ban telah masuk, Rasulullah semakin menggencarkan puasa-puasanya. Ummul mukminin Aisyah ra menuturkan: ‘Aku tidak melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadhan dan Aku tidak melihat beliau lebih banyak berpuasa dibandingkan dengan pada bulan Sya’ban’ (HR.Al-Bukhori-Muslim). Baginda Rosul bahkan memposisikan puasa pada bulan Sya’ban sebagai persiapan untuk menjalani Ramadhan. Anas ra menceritakan bahwa Nabi SAW pernah ditanya: ‘Puasa manakah yang paling afdhol setelah puasa ramadhan? Rosul menjawab:Puasa Sya’ban untuk menagungkan Ramadhan’ (HR.At-Tirmidzi).

     Jadi apa aja yang bisa kita lakukan? Persiapan penting yang mesti kita siapkan adalah:

 1.Persiapan mental,  yakni mempersiapkan ruhiah dengan membangkitkan semangat keimanan dan ketakwaan.Caranya adalah via memperbanyak amalan ibadah, agar saat bertemu Ramadhan tak ada lagi suasana kaget dengan padatnya ibadah taraweh, tadarus dll. Salah satunya denganberpuasa  di bulan Sya’ban (btw bulan Sya’ban tinggal beberapa hari lagi).Memperbanyak sedekah, sholat sunnah dan tadarus serta hapaqlan Al-qur’an .

 2.Persiapan Ilmu, yaknimenambah literatur/informasi/bacaan seputar Ramadhan . Apa saja hal-hal yang akan mengurangi pahalannya, amalan-amalan sunnahnya dan apa saja keutamaannya. Seputar fiqh puasa dan fiqh sholat taraweh-fiqh sholat Ied perlu kita pahami dengan segera.

 Terakhir, agar menambah kerinduan dan semangat diri menyongsong Ramadhan, Mari kita mrenungkan pesan-pesan Rasulullah berikut ini:

 "Wahai manusia, kalian telah dinaungi bulan yang agung, bulan penuh berkah, bulan yang di dalamntya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah telah menjadikan puasa pada bulan itu sebagai kewajibab dan sholat malamnya sebagai sunnah.Siapa saja yang bertaqorrub di dalamnya dengan sebuah kebajikan, ia seperti melaksanakan kewajiban pada bulan lain. Siapa saja yang melaksanakan satu kewajiban di dalamnya, ia seperti melaksananakna 70 kewajiban [pada bulan lainnya. Pahalanya adalaha surga, ia juga pelipur lara dan ditambahnya rezeki seorang mukmin…" (HR.Ibn Khuzaimah dalam Shaih Ibn Khuzaimah-al-Baihaqi di dalam Syu’ab al-Iman).