“Multitasking” human
September 11, 2007 – 7:46 am"MULTITASKING" GAK CUMA PADA KOMPUTER LHO..
MULTITASKING?! mungkin jika kita tidak berlatarbelakang IT or ilmu komputer dan sejenisnya, terasa asing di telinga. Yup, benar! konsep ini diperkenalkan pada mata kuliah SISTEM OPERASI, diberikan untuk bidang ilmu IT, ilmu komputer dan yang terkait dengannya. Wait! tunggu dulu..tulisan ini dibuat bukan dalam rangka kuliah SISTEM OPERASI lho! tapi..guna membandingkan sekaligus menganalogikan konsep multitasking pada komputer dengan the real time of human life. But..apa sih MULTITASKING??? multitasking itu menjalankan dua atau lebih program dalam sebuah komputer pada saat yang bersamaan. Maksud loo?! Sekarang, semua komputer bisa melakukan berbagai aktivitas bersama-sama, bisa nge-print nyambi dengerin lagu plus ngetik or main game. Berapa banyak program yang dapat secara efektif di multitasking, tergantung dari tipe multitasking performed (preemptive vs Cooperative), kecepatan CPU dan memori serta kapasitas harddisk.
Bicara tentang komputer emang gak ada habisnya. Tapi..pernahkah kita berfikir, bahwa komputer itu hanya buatan manusia yang serba terbatas. Agar tetap mampu mengikuti perkembangan zaman, tuntutan kebutuhan manusia, ia perlu selalu di-update, di-upgrade prosesornya, di-maintain sistemnya dll. Bandingkan dengan manusia. Kalo komputer aja bisa multitasking, gimana dengan kinerja manusia? Era globalisasi ini, memaksa manusia untuk memiliki keahlian khusus hanya di satu bidang, beragam sertifikasi keahlian spesifik pun banyak ditawarkan. Perusahaan besar pun dominannya mencari orang-orang dengan kemampuan spesifik pada bidang tertentu. Barat bahkan telah sejak bertahun-tahun lalu merancang model pendidikan dengan spesifikasi tertentu bagi siswa-siswanya, bahkan dari sejak pendidikan dasar. Bukan hal yang baru kalo banyak pelajar di barat minim pengetahuan umumnya/global, tapi "luar biasa" pengetahuan spesifikasinya. Sehingga wajar, kalo kita sulit menemukan manusia-manusia multi-talent alias multitasking, dengan prinsip kerja seperti pada teori di atas. Kita jarang menemukan (atau mungkin malah gak ada ya…) seorang sarjana arsitek sekaligus sarjana kedokteran plus politikus, sastrawan, dan di saat yang sama ia adalah ahli fiqh Islam dan tafsir qu’an/agamawan. Wow! amazing! so complicated!
Umum terjadi, antar orang yang mendalami bidang ilmu tertentu, menjadi awam (kalo bisa dikatakan tidak begitu peduli) dengan bidang ilmu yang lain. Standar kewajarannya adalah "apa valuenya? apa benefitnya kita mengetahui hal tsb? apa sesuai or mendukung karier saya"? kewajaran yang lain adalah sangat sulit bisa menempuh berbagai bidang ilmu or beragam aktivitas yang sekilas bertolak belakang atau tidak memiliki relasi. Kewajaran berikutnya adalah "apakah usia kita masih cukup, masih diizinkan untuk menempuh bidang ilmu-bidang ilmu tersebut, sarjana komputer saja sudah makan waktu 4 tahun, belum lagi kuliah kedokteran sekitar 6 tahun..bla..bla". Tentu saja..apalagi mahalnya biaya untuk menjadi "orang pintar" menambah panjangnya daftar kewajaran.
Otak manusia sangat istimewa. Anda tidak perlu melakukan partisi atau manajemen memory (seperti pada komputer) untuk mengoptimalkan fungsi otak. Mungkin mencapai bertrilyun-trilyun memori mampu disimpannya, sejak bayi hingga usia renta. Tak perlu anda repot meng-upgrade, atau install ulang. Maka, sangat logis jika manusia bisa memikirkan dan melakukan apa saja selama di dalam batas/kapasitas kemampuan sistem organ tubuhnya. Selama saratnya terpenuhi, yakni otak yang sehat, panca indra yang sehat, informasi dasar yang cukup dan keberadaan obyek pemikiran, maka manusia bisa melakukan apa saja, termasuk memiliki keahlian-disiplin ilmu yang beragam.
Sejarah mencatat, berabad-abad yang lampau,ketika eropa masih pulas dengan DARK-Age-nya, pada masa ke-khilafahan Islamiyyah periode Abbasiyah (sekitar abad ke 11 M s/d abad ke 15 M), kota Baghdad dan Spanyol (Andalusia) pernah mengukir tinta emas kejayaan intelektualitasnya. Peradaban kala itu mampu mencetak tidak sedikit kaum intelektual multitalent alias multitasking. Salah satunya ialah Ibnu Sina (Aviciena, sebutan orang barat padanya). Ia adalah ilmuwan muslim, bapak kedokteran peletak konsep-konsep ilmu kesehatan, penemu sistem anatomi tubuh manusia, yang hingga kini masih menjadi acuan universitas-universitas terkemuka di dunia. Ia juga seorang filosof muslim (mengeluarkan buku-buku filsafat), sastrawan dan pada saat yang sama juga memahami konsep-konsep agamanya (Islam). Biayanya??? Sekolahnya??? gak perlu repot..karna pada masa itu pendidikan gratis-tis-tis. Hebatnya lagi anda akan dibayar jika menulis buku, makalah dll seberat apa yang anda karyakan. Sesuatu yang luar biasa! penghargaan atas intelektual. Pusing cari donatur untuk penelitian or pusing cari lab untuk penelitian? gak bakal kita temukan, sebab laboratorium, perpustakaan tersedia 24 jam dan anda pun di bayar.
Hemm..bukan untuk romantisme masa lalu, tapi alangkah indahnya jika hal itu ada sekarang…, so..multitasking human memang berat, jika tidak didukung keadaan dan sistem kehidupan. Modal kesungguhan itu penting, tapi ternyata berbekal itu saja tak cukup my friend….
by owner
