MALES MIKIR=CEPAT PIKUN
September 20, 2007 – 7:07 amJANGAN MALES MIKIR!!! (awas pikun)
Dua minggu lalu, penulis berkunjung ke fakultas psikologi UII. Ada kolom menarik yang disajikan oleh mading salah satu UKM di sana. sebuah judul dengan isi yang lucu namun satire. Intinya kolom tersebut ingin menyampaikan bahwa orang Indonesia cenderung dapat berbicara tanpa menggunakan otak! atau ada juga anekdot tentang susunan otak otang Indonesia yang selalu rapi. apakah itu yang dimaksud dengan tong kosong nyaring bunyinya?
Terlepas dari itu, pernahkah kita bertanya, apa sih yang dimaksud dengan berfikir? apakah otak tempatnya akal? apakah sama antara berfikir dan ber-akal? apa setiap otak bisa berfikir? duh…pusing (bisa jadi itu yang muncul di benak kita). Walaupun kita selalu melakukan aktifitas ‘mikir’, tapi mungkin saja pertanyaan-pertanyaan tadi tidak terlintas dalam pemikiran kita. Wah repot! kehidupan ini dah cukup ribet dan pusing dengan permasalahan-permasalahan kehidupan, jadi cenderunya manusia zaman ini lebih pragmatis, instan dan realistis. Ternyata! dengan mengetahui hakikat berfikir kita bisa lho meningkatkan kecepatan berfikir (kaya prosesor aja "_"….).
Otak manusia vs Otak hewan
Apa si yang membedakan manusia dengan hewan? tentu saja pada akalnya. Sang pencipta telah memilih manusia sebagai makhluq yang paling tinggi derajatnya justru karna keberadaan akal. Kucing, ayam, monyet dkk, mereka semua tidak punya akal. Sehingga wajar, kalo kita tidak akan pernah menemukan peningkatan gaya hidup dari hewan-hewan tersebut. Jika nenek moyang mereka gak pake baju, maka sekarang pun gak ada kucing yang pake baju (dengan kesadaran sendiri) kecuali dalam kontes kucing indah. Padahal, bukankah kucing itu punya otak? yup..sudah pasti. Gajah juga punya otak, bahkan lebih besar dari otak manusia, tapi tetap aja gajah tidak bisa mikir. Lho! bukannya di Lampung ada sekolah buat gajah? apa itu bukan pembuktian bahwa gajah bisa mikir? pertanyaan ngawur bisa aja muncul, ya..besok gajahnya bisa daftar jadi asdos atau jadi dosen/tutor buat teman-temanya (^_^). Hewan-hewan yang ada di sirkus atau di sekolah tersebut dilatih dan dirangsang instingnya (daya kepekaan nalurinya) dengan tehnik pengulangan aktifitas. Seekor gajah dilatih untuk duduk, berulang-ulang latihan tadi dillakukan mungkin butuh bulanan, jika ia salah dalam melakukan instruksi maka ia tidak mendapat makanan, jika sebaliknya maka makanan adalah reward baginya. Kesimpulannya tidak melibatkan akal. Seperti halnya bayi, walaupun manusia tapi bayi belum sempurna akalnya alias belum mampu berfikir, jika ingin sesuatu maka ia akan menangis, merengek, itulah respon nalurinya. Maka, tidak semua yang berotak punya akal.
Proses berfikir = akal
Lalu, apa sih akal itu? akal adalah kemampuan untuk berfikir. Trus apa sih berfikir itu? bagaimana prosesnya terjadi? Sebenarnya kasus ini bisa kita pecahkan dengan mengamati (observasi) realitas. Kasusnya sbb: ada 3 orang manusia (A, B,C) yang dijadikan sample dengan latar belakang yang berbeda. Keduanya sama-sama kita berikan sebuah objek untuk diamati dan disimpulkan objek tersebut apa, misalnya bluethoot. Si A terus saja mengamati dan akhirnya menyimpulkan bahwa benda tersebut adalah flash disk untuk menyimpan data, sekilas memang terlihat mirip, telebih lagi karna A selalu menggunakan flash disk untuk kebutuhan kuliahnya. Si B benar-benar bingung, ia bahkan sama sekali belum pernah melihat benda tersebut, belum pernah ada di desanya benda seperti itu. Bagaimana dengan si C, wah..kalo dia si langsung bisa menjawab, bahwa benda tersebut adalah bluethooth terlebih lagi dia selalu memakainya sebagai alat bantu pekerjaannya di sebuah perusahaan IT terkenal. Apa yang membut kesimpulan mereka bertiga berbeda? ternyata tidak semua dari mereka pernah berinteraksi dengan benda tersebut, otomatis tidak semua dari mereka yang memiliki informasi tentang benda tersebut. Maka apakah orang-orang dalam sample tersebut melakukan proses berfikir? tentu yes! Nah dari kasus di atas bisakah kita merumuskan apa sih akal/berfikir itu? apa saja si yang dilibatkan dalam proses tersebut? yup jika dirumuskan maka di dapatkan sbb:
1. tentu saja ke 3 sample tersebut mesti memiliki objek untuk difikirkan (untuk bisa diteliti, diujicoba dll)
2. Ada panca indra (penglihatan, peraba, perasa, pendengaran dll) agar objek tersebut bisa diamati, diteliti dll. Namun buka berarti panca indranya mesti lengkap lho, sebab tidak semua panca indra dipakai dalam 1 waktu. Realitanya panca indra manusia itu terbatas, maksudnya ia dapat berfungsi dengan baik, jika obyek yang diindera memang mampu di jangkau panca indra. Contoh: telinga adalah indra pendengaran, tentunya memiliki ambang batas pendengaran, maksudnya telinga manusia hanya mampu mendengar hingga radius sekian dan pada gelombang sekian.
3. Ada informasi yang terkait dengan objek pemikiran kita, misal pada kasus di atas hanya C yang memiliki info tentang bluetooth
4. Harus ada otak. Mengapa? otak ibarat prosesor, tempat menyimpan sejumlah informasi dari objek yang difikirkan. Menurut ilmu biologi, Di otak pula tejadi proses pengkaitan antara objek yang di indra dengan informasi yang tersimpan di dalam memory internal otak melalui sinyal-sinyal. Jika informasi tsb ada, maka objek tersebut bisa didefenisikan. Dan tentu saja otak tersebut mestilah sehat, jika tidak, maka proses pengkaitan ini akan menjadi tidak sempurna. Contoh orang yang mengalami kerusakan otak, mestilah menurun daya berfikirnya (alias menurun kapabilitas pengkaitan info dengan objek).
Pepatah lama berpesan agar kita sering-sering mengasah otak kita agar pintar, maksudnya sering-seringlah berfikir sebab sebuah penelitian menyatakan banyak kasus kepikunan salah satu penyebabnya adalah dimulai dari semakin minimnya aktifitas berfikir (otak menganggur). Dari artikel yang pernah saya baca: Istilah pikun ini dikenal sebagai Alzheimer. Yaitu Ketidakmampuan untuk mengingat kejadian-kejadian yang belum lama berlalu. Pada otak orang makin menua, cenderung terjadi penurunan fungsi otak. Apabila tidak dicari solusi pencegahannya akan timbul pola “plak” amyloid protein. Kerusakan mulai terjadi pada bagian tengah otak yang disebut temporal. Kerusakan ini mempengaruhi sirkuit-sirkuit yang menyimpan ingatan akan kejadian-kejadian pada masa lalu. Kemampuan untuk menemukan kata-kata untuk menyebut objek-objek yang biasa mulai melemah, Pada pola yang lebih parah diikuti dengan ketidakmampuan untuk mengenali orang-orang dan tempat-tempat yang sudah diakrabi atau bahkan tidak mengetahui kegunaan cangkir kopi. Konon kondisi ini merupakan warisan secara genetis namun bisa dicegah dengan menjaga pikiran tetap aktif.(http://anangku.blogspot.com/2006/08/tentang-otak-dan-pikun.html)
So…masih males mikir????
