Bagaikan Bercermin

February 14, 2008 – 10:04 am

Seperti bercermin

 
Pernahkah Anda bercermin? Tentu pernah bukan? Apalagi jika Anda hidup di zaman modern dimana penampilan sangat diperhitngkan. Bahkan ada yang merasa tidak percaya diri jika tidak bercermin terlebih dahulu. Yaa..cermin dengan pantulan cahayanya mampu menambah rasa optimis dan percata diri seseorang. Kenapa sih kita perlu bercermin? Tentu saja untuk melihat penampilan kita, sudah pantas kah atau perlu dikoreksi, walaupun terkadang sedikit tidak puas melihat penampilan yang masih terasa kurang indah di mata namun tak seorang pun yang menyalahkan si cermin. Cermin akan memantulkan objek yang dikenai cahaya, apa adanya. Tanpa basa-basi atau rasa sungkan. Cermin bahkan terlalu jujur untuk berkata ’sesuatu’ yang kadang terasa nyaman atau kesal di hati. Filosofi certmin adalah refleksi dari kehidupan riil di tengah-tengah kita. Kritik bagaikan cermin yang mampu memantulkan informasi-informasi masukan bagi diri kita. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Tapi tak jarang, kita alergi terhadap kritik, tapi senang sekali bercermin. Namun, memang adalah wajar. Setiap manusia memiliki naluri eksitensi diri. Jika naluri ini digugat maka salah satu aktualisasinya adalah penolakan,

Sudah saatnya tidak lagi ber negative thingking terhadap masukan ataupun kritik..mm memang kebenaran itu terkadang pahit kawan!