Menimbang Ulang Pendekatan Sosial Kultural Dalam Mendakwahkan Islam??
November 10, 2008 – 7:42 am Allah SWT telah memerintahkan kita untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri tauladan dalam kehidupan kita, tidak hanya dalam masalah ibadah dan akhlaq beliau yang sangat mulia namun juga dalam seluruh aspek kehidupan. Dimana Rosulullah SAW diutus oleh Allah untuk menyampaikan risalah Islam yang sempurna sebagaimana yang telah dipastikan sendiri oleh Nya dalam qs.Al-maidah : 3 bahwa sesungguhnya Allah telah menyempurnakan Islam sebagai agama yang satu-satunya diridhai disisi Allah, Tuhan Semesta alam. Dan Islam telah mewajibkan umatnya untuk berIslam secara kaffah. Inilah yang menjadi ibroh dari pengutusan seorang Rosul, sebagai subyek yang memodelkan risalah Sang Pencipta dalam kehidupan nyata. Demikian pula dalam aspek dakwah Islam. Maka rosulullah SAW adalah model acuan yang semestinya kita teladani dalam berdakwah.
Tentunya, hal ini memerlukan pengkajian yang mendalam atas perjalanan rosulullah yang terhimpun dalam kisah perjalanan kenabian Muhammad (siroh nabawiyyah) yang sarat muatan hukum, sehingga kita mampu mengekstraksinya dalam bentuk formula2 dakwah dan mengimplementasikannya secara nyata di medan perjuangan ini. Pengkajian yang dangkal atas perkara ini akan mengantarkan kita pada kekeliruan dalam memahami dakwah Islam bahkan bisa mengantarkan pada kekeliruan dalam amal dakwah. Terlebih lagi, pada masa ini, dimana ide-ide kufur dan falsafah-falsafah kehidupan asing bebas berkeliaran bak virus yang susah dihindari. Realita ini bisa saja mengaburkan pengemban dakwah Islam dari pandangan yang jernih, arus anginnya bisa saja melenakan atau bahkan menghanyutkan kita, hingga terbawa dengan kondisi yang semestinya ditundukkan oleh dakwah Islam tapi malah justru sebaliknya.
Oleh karena itu seorang pengemban dakwah Islam harus menjaga kesucian pemikirannya dari kotoran dan debu pemikiran kufur, kebiasaan/adat jahiliyyah yang telah berakar ditengah-tengah masyarakat. Ia harus menjaga kelurusan pemikirannya agar tetap berjalan di atas rel metode kenabian tanpa keluar seujung rambut pun, tanpa memikirkan ajakan dan rayuan gombal orang-orang kafir yang tak senang pada Islam tanpa memikirkan hinaan dan nistaan dari kalangan orang-orang yang suka mencela.Tanpa mempertimbangkan kerugian yang akan dirasakannya atau keuntungan yang akan diraihnya, sebab ia yakin bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang bersabar.
Keyakinan yang kokoh atas pertolongan Allah dan keistiqomahan untuk berjalan lurus pada metode dakwah inilah menjadi rahasia keberhasilan dakwah nabi Muhammad dan para shahabat. Bukankah ketika itu Rosulullah dihadapkan dengan fakta masyarakat Arab yang tidak beradab alias barbar bahkan tak pernah sedikitpun diperhitungkan dikancah politik dunia ketika itu? Ya, benar. Masyarakat Arab masa itu kental dengan budaya berperang, menyembah berhala, membunuh anak-anak perempuan mereka, suka meramal nasib dengan anak panah, berjudi, mengurangi timbangan, hobi berzina dan minum-minuman keras, merendahkan martabat wanita dan adat kebiasaan lainnya yang amat rendah. Itulah kondisi sosial kultural masyarakat Arab sebelum datangnya Islam. Siroh nabawiyyah karangan Ibnu Hisyam memaparkan secara detail bagaimana Rosulullah SAW melawan arus opini dan adat istiadat saat itu. Banyak ayat-ayat Al-qur’an yang turun dengan terang-terangan menentang, menghinakan, merendahkan dan membongkar kerusakan adat dan hukum jahiliyyah pada masa itu.
Resikonya tentu tidaklah ringan. Bilal bin Rabbah ra (Shabat rosulullah SAW) harus menanggung panas terik dan sakit yang amat sangat akibat dadanya ditimpa batu besar sedang ia ditelentangkan di atas gurun pasir yang gersang, hanya karena ia bersaksi bahwa Allah itu esa. Keesaan Tuhan adalah ide yang bersebrangan secara kontras dengan ide yang sudah turun temurun diyakini masyarakat Arab bahwa Tuhan itu berbilang, bukan satu. Atau bagaimana pula dengan keluarga Yasir yang ditimpa siksa amat kejam, hingga akhirnya Amr bin Yasir harus kehilangan ayah dan ibunya (mereka mati syahid) karna mempertahankan keyakinannya bahwa tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah? Sungguh bayaran yang amat mahal, itu semua karna keyakinan mereka yang melawan arus keyakinan masyarakat yang selama ini percaya bahwa hukum nenek moyang adalah hukum yang tak tergantikan. Atau bagaimana pula dengan cercaan, makian, hinaan dan perlakuan buruk yang dirasakan Nabi sebagai akibat dakwah Islamnya? Beliau bahkan dijadikan common enemy (musuh bersama) para pemuka quraisy bahkan target operasi pembunuhan, itu semua karna risalah yang Beliau bawa, sungguh-sungguh melawan arus yang ada, benar-benar berbeda dengan adat dan hukum yang telah lama ada. Lalu apakah itu semua menggentarkan beliau? Kalau saja iya, maka hari ini, kita tidak akan pernah merasakan nikmat sebagai seorang muslim. Rosulullah tetap konsisten pada jalannya, Ia yakin bahwa Allah akan menolongnya, tiada daya upaya tanpa kekuatan Allah. Beliau ubah paradigma masyarakat arab mekkah dengan tanpa ragu-ragu mencabut pemikiran-pemikiran kufur dari akar-akarnya kemudian menggantikannya dengan pemahaman Islam hingga Islam menjadi pedoman hidup mereka. Beliau mobilisir para shahabat guna membantu beliau mencari dukungan terhadap dakwah Islam kepada tokoh-tokoh terkemuka quraisy. Walau godaan dan halangan merintangi, rasul dan para shahabat tak bergeming, tak mengenal kompromi yang mencampur adukkan yang haq dan bathil. Hingga akhirnya perjuangan rosulullah berbuah manis dengan datangnya Nashrullah dukungan penduduk Madinah sampai hijrah dan berdirinya negara Islam Madinah .
Demikianlah semestinya yang semestinya dilakukan oleh seorang pengemban dakwah masa kini. Sekalipun zaman telah berubah dan teknologi semakin berkembang, sebenarnya potensi hidup yang dimiliki manusia tetaplah sama, manusia masa lalu butuh makan, manusia masa kini juga. Yang berubah adalah cara/alat pemenuhannya saja, dulu tidak ada yang makan ayam kentucky (ayam tepung), namun sekarang mayoritas manusia moderen umumnya senang makan ayam kentucky (ayam tepung) tsb. Dakwah pada masa kini, ketika sistem Islam belum tegak (lagi) dan bercokol hukum barat (jahiliyyah), memiliki relasi yang cocok dengan kondisi masyarakat mekkah pada masa Rasulullah SAW dari aspek sama2 tidak bernaung di sistem Islam. Oleh karena itulah metode dakwah Nabi, tetap relevan dijadikan rujukan. Sehingga pengemban dakwah tidak terjebak dalam dakwah yang ikut pada kondisi masyarakat (padahal kondisi/kebiasaan masyarakat itu jauh dari nilai2 Islam…).
Semestinya sosial kultural masyarakat tsb kita ubah agar sesuai dengan Islam, bukan sebaliknya, sekalipun besar resikonya. Cara / pendekatan yang kita gunakan dalam menyampaikan Islam semestinya tidak mengaburkan Islam itu sendiri, tindakan ini bisa menyesatkan/membingungkan umat. Katakanlah kebenaran dengan lugas-tegas, tegurlah kemungkaran dengan keberanian yang bersumber pada iman, inilah yang akan mempercepat proses pencerdasan umat dan mengangkat umat Islam dari lumpur kejahiliyyahan. Hasil dakwah, baik penerimaan ataupun penolakan dari masyarakat semestinya tidak dijadikan ukuran untuk mengukur keberhasilan dakwah. Proses adalah orientasi/titik tekan dakwah, apakah proses transformasi konsep-konsep kehidupan Islam sudah berjalan dengan baik atau belum. Sudahkah penyampaian pemikiran-pemikiran tersebut menggugah kesadaran umat? Sudahkah dakwah ini disampaikan dengan memperhatikan taraf berfikir umat yg berbeda-beda secara sunatullah? Respon masyarakat (Penerimaan ataupun penolakan) dievaluasi, apakah itu terjadi karna kesalahpahaman, atau lemahnya pemahaman Islam masyarakat atau karna ada sebuah rekayasa opini dari para penjajah, atau karna hal lainnya.
Evaluasi dilakukan tidak untuk menyalahkan materi dakwahnya yang notabene merupakan pemikiran-pemikiran Islam yang bersumber dari al-quran & Sunnah. Komentar orang ramai hendaknya tidak menjadi poros untuk mengukur tindakan terpuji atau tercela kah dakwah yang kita lakukan. Dakwah adalah semata-mata karna Allah, sebab Allah telah menyatakan bahwa mereka orang-orang yang beriman itu tak putus asa dan bersedih hati atas komentar manusia2 yang lain. Jadi, keberhasilan dakwah terukur sesuai dengan derajat perubahan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Insya Allah
