Ambiguitas Film Jamila & Sang Presiden

May 8, 2009 – 4:32 am


Penerapan Sistem Kapitalisme:

Sumber Masalah Perdagangan Wanita dan Anak-anak

 

Ratna Sarumpaet, seorang aktivis perempuan Indonesia dalam acara Apa Kabar Indonesia, TV One, Pagi, Kamis 30 April 2009, menyatakan bahwa Indonesia sebagai sebuah negara religius menempati posisi yang cukup tinggi untuk kasus penjualan wanita dan anak-anak. Ratna mempertanyakan Indonesia? Mengapa bangsa beragama yang kental dengan ritual agama bisa seperti ini? Dia berharap pemerintah (khususnya yang akan terpilih kelak) memperhatikan ini dalam kebijakannya, karna kondisi ini sungguh memprihatinkan. Kalau boleh dikatakan, Ratna sedang mempertanyakan peran agama dalam kasus ini. Kita bisa bertanya balik, mengapa peran agama ditanyakan ketika problem sosial merebak bak jamur di musim hujan? Lalu, mengapa juga sebagian orang mempertanyakan ulang ketika agama ingin memainkan perannya menyelesaikan permasalahan masyarakat, dengan dalih ”kita bukan negara agama!” atau ”negara hanya mengatur wilayah privat! Jangan campuri wilayah publik!”

Bangsa Indonesia memang bangsa beragama. Penduduknya 80 % Islam, dan pejabat terasnya juga mayoritas Islam, konklusinya berdasarkan premis di atas adalah pihak yang dimintai pertanggungjawabannya berarti agama Islam. Namun, ada yang terlewatkan. Pada faktanya, memang bangsa ini mayoritas Islam, tapi Islam ditempatkan hanya sebatas agama yang porsi kerjanya hanya pada ranah privat yakni seputar ibadah ritual, pernikahan, kematian, norma-norma etika dan solusi bagi hal-hal ghaib semisal jika ada yang kesurupan atau sedang dilanda stress (seperti para caleg gagal saat ini—red). Kini pun, hukum Islam dalam ranah keluarga sedang digugat dengan dalih keadilan & kesetaraan gender. Jadi, porsi agama dalam aspek privat sudah semakin tereduksi. Entahlah..mungkin esok hari, agama hanya tertera indah di KTP dan tak punya peran lagi walaupun secuil. Islam tidak berperan sebagai pandangan hidup (idiologi) bagi bangsa ini juga bangsa lain di dunia. Aturan perundang-undangan dan kebijakan penguasa tidak lahir dari rahim syariat Islam, tapi lahir dari rahim demokrasi. Asas tegaknya hukum bagi negri ini adalah sekulerisme, paham yang memisahkan agama dari pemerintahan, dimana tidak boleh satupun agama mencampuri kebijakan negara. Kalaupun boleh, ya ..sebatas menginspirasi/mengilhami lahirnya kebijakan, bukan benar-benar lahir sebagai akibat penggalian sumber-sumber hukum agama (Quran dan Hadist –red). Secara historis dan fakta empirik, negara ini sejak merdekanya menerapkan idiologi selain Islam, bahkan tidak lahir dari agama. Bangsa ini pernah dipimpin idiologi yang cenderung ke sosialis, pernah pula dipimpin rezim yang cenderung ke kapitalis, bahkan sekarang para pakar ekonomi menyatakan Indonesia jelas terlihat cenderung ke kapitalis mazhab neoliberalisme. Justru, sangat rasional jika sistem Kapitalisme dapat dijadikan tersangka problem sosial ini. Pantas pula dicurigai, bukannya regulasi hukum lahir ketika sistem ini diberlakukan oleh negara RI ? Mengapa pula kita sibuk mempertanyakan sesuatu (agama) yang tak berperan melahirkan hukum/perundangan di negri ini?

Mengapa ? Sungguh sangat beralasan. Prinsip-prinsip kapitalisme perlu ditelusuri. Ciri khas idiologi ini ada pada sistem ekonominya, sehingga ciri ini pun disematkan pada namanya, secara terminologis, capital yang berarti modal dan isme yang berarti paham. Kapitalisme sangat menyanjung kebebasan individu, negara hadir sebagai penjaga kepentingan individu agar tidak saling bertabrakan. Kapitalisme berdiri diatas pondasi sekulerisme. Kapitalisme memandang bahwa standar perbuatan/ aktivitas adalah untung-rugi. Standar ini menjadi basis penilaian bagi semua problem masyarakat, termasuk kasus hangat yang diangakat dalam judul tulisan ini. Semua aspek kehidupan dilihat dengan kacamata niaga. Tidaklah aneh jika manusia pun bisa menjadi salah satu komoditas dagangnya, sebab halal menurut kapitalisme adalah sesuatu yang mendatangkan untung, sedangkan haram adalah hal yang mendatangkan kerugian/tidak eksis manfaatnya. Bahkan, kocek negara bisa saja dibiayai oleh sumber-sumber yang menurut pranata agama dianggap haram. Contohnya Thailand, banyak media melansir, pajak terbesar negri gajah putih ini bersumber pada bisnis prostitusi, negri ini adalah surga bagi para hidung belang, semua tersedia, baik wanita dewasa maupun anak-anak. Perdagangan wanita & anak laris bak kacang goreng di sana. Maka, berlakulah hukum ekonomi kapitalis : dimana ada permintaan, di sana ada penawaran. Tragis bukan! Keperawanan gadis-gadis muda Thailand merupakan aset berharga devisa negara. Apalagi USA, sudah menjadi ”kemakluman bersama”, bagaimana Las Vegas, salah satu kota di negara bagiannya, menjadi pusat perjudian dunia sekaligus prostitusi juga ada di sana. Dan, di negri ini, di ibu kota kita, pernah ada seorang Gubernur dengan terang dan jelas menjadikan bisnis judi dan prostitusi menjadi salah satu penopang perekonomian ibu kota.  Sekarang, bisnis prostitusi yang meniscayakan adanya perdagangan manusia untuk seks, tetap ada. Salah satu kota di Jawa Barat, pernah diberitakan menjadi pemasok bisnis ini. Pencapaian kesejahtraan dan kebahagiaan menjadi pembenaran. Prostitusi memang masalah sosial, tapi sekarang telah terjadi pergeseran nilai, dimana prostitusi dianggap bagian dari pekerjaan walaupun hina namun semuanya demi menghidupi keluarga. Ada diskriminasi penilaian di sini. Korupsi..yang telah ditetapkan sebagai musuh bersama bangsa ini, bukankah para pelakunya berbuat atas dasar ingin mensejahtrakan keluarganya ? Selama bisnis prostitusi masih dilegalkan atas nama ”lokalisasi” apalagi menjadi sumber devisa maka perdagangan wanita dan anak-anak akan tetap ada, tidak hanya bagi Indonesia tapi bagi seluruh dunia.. Perdagangan manusia akan berhenti apabila logika ekonomi kita berubah. Padahal sistem ekonomi tsb, sistem hukum dan aturan-aturan lainnya dipayungi oleh idiologi/sistem kapitalisme. Ketika sistem ini diganti, maka standar/cara pandang melihat problem masyarakat juga akan berganti.

Jadi…sangat rasional jika kapitalisme ditetapkan sebagai biang keroknya. Propaganda yang selama ini menyudutkan agama (Islam) sungguh amat sangat tidak adil. Mau dengan apapun balutan propaganda buruk tsb, apakah via tulisan, media cetak, elektronik, pementasan ataukah pagelaran film, tetap saja tidak bisa menyembunyikan boroknya. Siapa yang berbuat….semestinya dialah yang bertanggungjawab. Nyatanya, agama (Islam) telah diadili secara opini umum Akar masalah kasus ini bukan pada ”kaum laki-laki yang mendominasi wanita” atau pada alasan-alasan lainnya. Terlalu sempit cara berfikirnya. Memang, patut diakui, diperlukan pemikiran cemerlang untuk memahami persoalan pelik ini. Sayangnya, potensi berfikir itu, telah dimampatkan dan dengan sengaja didangkalkan. Padahal kita membutuhkan pemikiran cemerlang yang kan mengantarkan kita pada taraf berfikir politik. Persepsi kita tentang politik juga sudah diracuni, politik yang kita kenali adalah politik oportunis & pragmatis. Telinga ini tak akrab dengan politik Islam, laku kita tak dekat dengan praktek politik Islam, toh sekalipun kita mayoritas Islam. Ironisnya, Islam sekedar warisan kepercayaan orang tua.

Dan akhirnya, selama kapitalisme-sekuler masih bercokol di bumi ini, maka..selama itulah perdagangan manusia akan tetap berlangsung. Lalu ….masihkah kita berharap? Masihkah agama (Islam) dijadikan kambing hitam ?


Mei Indah

May 8, 2009 – 3:46 am

Assalammualaikum!

Akhirnya…aku mulai nulis lagi di sini, setelah lama berhenti. Hmm jumpa lagi dengan bulan mei. bulan pendidikan dan kebangkitan. Ayo bangkit-bangkit!!!

2009 yang rame…awal tahun dibuka dengan kisah tragis sodara-sodara kita di Palestine yang "rame-rame" dibantai dan dunia cuma bisa mengecam. Trus ribut-ribut kawin siri selebritis bla-bla…Ada pemilu bu! yang heboh ribut-ribut DPT dan perhitungan suara yang tak "adil" menurut orang-orang, pemilu yang mahal…kira-kira pake duit sapa ya…rakyat tetap menderita ataw bahagia ya?????

Bahagia di dunia, di akhirat bahagia gak ya???

Menjelang pilpres, ada kasus antasari…dan gak ketinggalan...My Thesis

Wassalamualaikum

 

 


Menimbang Ulang Pendekatan Sosial Kultural Dalam Mendakwahkan Islam??

November 10, 2008 – 7:42 am

        Allah SWT telah memerintahkan kita untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri tauladan dalam kehidupan kita, tidak hanya dalam masalah ibadah dan akhlaq beliau yang sangat mulia namun juga dalam seluruh aspek kehidupan. Dimana Rosulullah SAW diutus oleh Allah untuk menyampaikan risalah Islam yang sempurna sebagaimana yang telah dipastikan sendiri oleh Nya dalam qs.Al-maidah : 3 bahwa sesungguhnya Allah telah menyempurnakan Islam sebagai agama yang satu-satunya diridhai disisi Allah, Tuhan Semesta alam. Dan Islam telah mewajibkan umatnya untuk berIslam secara kaffah. Inilah yang menjadi ibroh dari pengutusan seorang Rosul, sebagai subyek yang memodelkan risalah Sang Pencipta dalam kehidupan nyata. Demikian pula dalam aspek dakwah Islam. Maka rosulullah SAW adalah model acuan yang semestinya kita teladani dalam berdakwah.
         Tentunya, hal ini memerlukan pengkajian yang mendalam atas perjalanan rosulullah yang terhimpun dalam kisah perjalanan kenabian Muhammad (siroh nabawiyyah) yang sarat muatan hukum, sehingga kita mampu mengekstraksinya dalam bentuk formula2 dakwah dan mengimplementasikannya secara nyata di medan perjuangan ini. Pengkajian yang dangkal atas perkara ini akan mengantarkan kita pada kekeliruan dalam memahami dakwah Islam bahkan bisa mengantarkan pada kekeliruan dalam amal dakwah. Terlebih lagi, pada masa ini, dimana ide-ide kufur dan falsafah-falsafah kehidupan asing bebas berkeliaran bak virus yang susah dihindari. Realita ini bisa saja mengaburkan pengemban dakwah Islam dari pandangan yang jernih, arus anginnya bisa saja melenakan atau bahkan menghanyutkan kita, hingga terbawa dengan kondisi yang semestinya ditundukkan oleh dakwah Islam tapi malah justru sebaliknya.
           Oleh karena itu seorang pengemban dakwah Islam harus menjaga kesucian pemikirannya dari kotoran dan debu pemikiran kufur, kebiasaan/adat jahiliyyah yang telah berakar ditengah-tengah masyarakat. Ia harus menjaga kelurusan pemikirannya agar tetap berjalan di atas rel metode kenabian tanpa keluar seujung rambut pun, tanpa memikirkan ajakan dan rayuan gombal orang-orang kafir yang tak senang pada Islam tanpa memikirkan hinaan dan nistaan dari kalangan orang-orang yang suka mencela.Tanpa mempertimbangkan kerugian yang akan dirasakannya atau keuntungan yang akan diraihnya, sebab ia yakin bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang bersabar.
             Keyakinan yang kokoh atas pertolongan Allah dan keistiqomahan untuk berjalan lurus pada metode dakwah inilah menjadi rahasia keberhasilan dakwah nabi Muhammad dan para shahabat. Bukankah ketika itu Rosulullah dihadapkan dengan fakta masyarakat Arab yang tidak beradab alias barbar bahkan tak pernah sedikitpun diperhitungkan dikancah politik dunia ketika itu? Ya, benar. Masyarakat Arab masa itu kental dengan budaya berperang, menyembah berhala, membunuh anak-anak perempuan mereka, suka meramal nasib dengan anak panah, berjudi, mengurangi timbangan, hobi berzina dan minum-minuman keras, merendahkan martabat wanita dan adat kebiasaan lainnya yang amat rendah. Itulah kondisi sosial kultural masyarakat Arab sebelum datangnya Islam. Siroh nabawiyyah karangan Ibnu Hisyam memaparkan secara detail bagaimana Rosulullah SAW melawan arus opini dan adat istiadat saat itu. Banyak ayat-ayat Al-qur’an yang turun dengan terang-terangan menentang, menghinakan, merendahkan dan membongkar kerusakan adat dan hukum jahiliyyah pada masa itu.
                   Resikonya tentu tidaklah ringan. Bilal bin Rabbah ra (Shabat rosulullah SAW) harus menanggung panas terik dan sakit yang amat sangat akibat dadanya ditimpa batu besar sedang ia ditelentangkan di atas gurun pasir yang gersang, hanya karena ia bersaksi bahwa Allah itu esa. Keesaan Tuhan adalah ide yang bersebrangan secara kontras dengan ide yang sudah turun temurun diyakini masyarakat Arab bahwa Tuhan itu berbilang, bukan satu. Atau bagaimana pula dengan keluarga Yasir yang ditimpa siksa amat kejam, hingga akhirnya Amr bin Yasir harus kehilangan ayah dan ibunya (mereka mati syahid) karna mempertahankan keyakinannya bahwa tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah? Sungguh bayaran yang amat mahal, itu semua karna keyakinan mereka yang melawan arus keyakinan masyarakat yang selama ini percaya bahwa hukum nenek moyang adalah hukum yang tak tergantikan. Atau bagaimana pula dengan cercaan, makian, hinaan dan perlakuan buruk yang dirasakan Nabi sebagai akibat dakwah Islamnya? Beliau bahkan dijadikan common enemy (musuh bersama) para pemuka quraisy bahkan target operasi pembunuhan, itu semua karna risalah yang Beliau bawa, sungguh-sungguh melawan arus yang ada, benar-benar berbeda dengan adat dan hukum yang telah lama ada. Lalu apakah itu semua menggentarkan beliau? Kalau saja iya, maka hari ini, kita tidak akan pernah merasakan nikmat sebagai seorang muslim. Rosulullah tetap konsisten pada jalannya, Ia yakin bahwa Allah akan menolongnya, tiada daya upaya tanpa kekuatan Allah. Beliau ubah paradigma masyarakat arab mekkah dengan tanpa ragu-ragu mencabut pemikiran-pemikiran kufur dari akar-akarnya kemudian menggantikannya dengan pemahaman Islam hingga Islam menjadi pedoman hidup mereka. Beliau mobilisir para shahabat guna membantu beliau mencari dukungan terhadap dakwah Islam kepada tokoh-tokoh terkemuka quraisy. Walau godaan dan halangan merintangi, rasul dan para shahabat tak bergeming, tak mengenal kompromi yang mencampur adukkan yang haq dan bathil. Hingga akhirnya perjuangan rosulullah berbuah manis dengan datangnya Nashrullah dukungan penduduk Madinah sampai hijrah dan berdirinya negara Islam Madinah .
            Demikianlah semestinya yang semestinya dilakukan oleh seorang pengemban dakwah masa kini. Sekalipun zaman telah berubah dan teknologi semakin berkembang, sebenarnya potensi hidup yang dimiliki manusia tetaplah sama, manusia masa lalu butuh makan, manusia masa kini juga. Yang berubah adalah cara/alat pemenuhannya saja, dulu tidak ada yang makan ayam kentucky (ayam tepung), namun sekarang mayoritas manusia moderen umumnya senang makan ayam kentucky (ayam tepung) tsb. Dakwah pada masa kini, ketika sistem Islam belum tegak (lagi) dan bercokol hukum barat (jahiliyyah), memiliki relasi yang cocok dengan kondisi masyarakat mekkah pada masa Rasulullah SAW dari aspek sama2 tidak bernaung di sistem Islam. Oleh karena itulah metode dakwah Nabi, tetap relevan dijadikan rujukan. Sehingga pengemban dakwah tidak terjebak dalam dakwah yang ikut pada kondisi masyarakat (padahal kondisi/kebiasaan masyarakat itu jauh dari nilai2 Islam…).
             Semestinya sosial kultural masyarakat tsb kita ubah agar sesuai dengan Islam, bukan sebaliknya, sekalipun besar resikonya. Cara / pendekatan yang kita gunakan dalam menyampaikan Islam semestinya tidak mengaburkan Islam itu sendiri, tindakan ini bisa menyesatkan/membingungkan umat. Katakanlah kebenaran dengan lugas-tegas, tegurlah kemungkaran dengan keberanian yang bersumber pada iman, inilah yang akan mempercepat proses pencerdasan umat dan mengangkat umat Islam dari lumpur kejahiliyyahan. Hasil dakwah, baik penerimaan ataupun penolakan dari masyarakat semestinya tidak dijadikan ukuran untuk mengukur keberhasilan dakwah. Proses adalah orientasi/titik tekan dakwah, apakah proses transformasi konsep-konsep kehidupan Islam sudah berjalan dengan baik atau belum. Sudahkah penyampaian pemikiran-pemikiran tersebut menggugah kesadaran umat? Sudahkah dakwah ini disampaikan dengan memperhatikan taraf berfikir umat yg berbeda-beda secara sunatullah? Respon masyarakat (Penerimaan ataupun penolakan) dievaluasi, apakah itu terjadi karna kesalahpahaman, atau lemahnya pemahaman Islam masyarakat atau karna ada sebuah rekayasa opini dari para penjajah, atau karna hal lainnya.
           Evaluasi dilakukan tidak untuk menyalahkan materi dakwahnya yang notabene merupakan pemikiran-pemikiran Islam yang bersumber dari al-quran & Sunnah. Komentar orang ramai hendaknya tidak menjadi poros untuk mengukur tindakan terpuji atau tercela kah dakwah yang kita lakukan. Dakwah adalah semata-mata karna Allah, sebab Allah telah menyatakan bahwa mereka orang-orang yang beriman itu tak putus asa dan bersedih hati atas komentar manusia2 yang lain. Jadi, keberhasilan dakwah terukur sesuai dengan derajat perubahan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Insya Allah


“Multitasking” human

September 11, 2007 – 7:46 am
"MULTITASKING" GAK CUMA PADA KOMPUTER LHO..
 
    MULTITASKING?! mungkin jika kita tidak berlatarbelakang IT or ilmu komputer dan sejenisnya, terasa asing di telinga. Yup, benar! konsep ini diperkenalkan pada mata kuliah SISTEM OPERASI, diberikan untuk bidang ilmu IT, ilmu komputer dan yang terkait dengannya. Wait! tunggu dulu..tulisan ini dibuat bukan dalam rangka kuliah SISTEM OPERASI lho! tapi..guna membandingkan sekaligus menganalogikan konsep multitasking pada komputer dengan the real time of human life. But..apa sih MULTITASKING??? multitasking itu menjalankan dua atau lebih program dalam sebuah komputer pada saat yang bersamaan. Maksud loo?!  Sekarang, semua komputer bisa melakukan berbagai aktivitas  bersama-sama, bisa nge-print nyambi dengerin lagu plus ngetik or main game. Berapa banyak program yang dapat secara efektif di multitasking, tergantung dari tipe multitasking performed (preemptive vs Cooperative), kecepatan CPU dan memori serta kapasitas harddisk.
    Bicara tentang komputer emang gak ada habisnya. Tapi..pernahkah kita berfikir, bahwa komputer itu hanya buatan manusia yang serba terbatas. Agar tetap mampu mengikuti perkembangan zaman, tuntutan kebutuhan manusia, ia perlu selalu di-update, di-upgrade prosesornya, di-maintain sistemnya dll. Bandingkan dengan manusia. Kalo komputer aja bisa multitasking, gimana dengan kinerja manusia? Era globalisasi ini, memaksa manusia untuk memiliki keahlian khusus hanya di satu bidang, beragam sertifikasi keahlian spesifik pun banyak ditawarkan. Perusahaan besar pun dominannya mencari orang-orang dengan kemampuan spesifik pada bidang tertentu. Barat bahkan telah sejak bertahun-tahun lalu merancang model pendidikan dengan spesifikasi tertentu bagi siswa-siswanya, bahkan dari sejak pendidikan dasar. Bukan hal yang baru kalo banyak pelajar di barat minim pengetahuan umumnya/global, tapi "luar biasa" pengetahuan spesifikasinya. Sehingga wajar, kalo kita sulit menemukan manusia-manusia multi-talent alias multitasking, dengan prinsip kerja seperti pada teori di atas. Kita jarang menemukan (atau mungkin malah gak ada ya…) seorang sarjana arsitek sekaligus sarjana kedokteran plus politikus, sastrawan, dan di saat yang sama ia adalah ahli fiqh Islam dan tafsir qu’an/agamawan. Wow! amazing! so complicated!
    Umum terjadi, antar orang yang mendalami bidang ilmu tertentu, menjadi awam (kalo bisa dikatakan tidak begitu peduli) dengan bidang ilmu yang lain. Standar kewajarannya adalah "apa valuenya? apa benefitnya kita mengetahui hal tsb? apa sesuai or mendukung karier saya"? kewajaran yang lain adalah sangat sulit bisa menempuh berbagai bidang ilmu or beragam aktivitas yang sekilas bertolak belakang atau tidak memiliki relasi. Kewajaran berikutnya adalah "apakah usia kita masih cukup, masih diizinkan untuk menempuh bidang ilmu-bidang ilmu tersebut, sarjana komputer saja sudah makan waktu 4 tahun, belum lagi kuliah kedokteran sekitar 6 tahun..bla..bla". Tentu saja..apalagi mahalnya biaya untuk menjadi "orang pintar" menambah panjangnya daftar kewajaran.
    Otak manusia sangat istimewa. Anda tidak perlu melakukan partisi atau manajemen memory (seperti pada komputer) untuk mengoptimalkan fungsi otak. Mungkin mencapai bertrilyun-trilyun memori mampu disimpannya, sejak bayi hingga usia renta. Tak perlu anda repot meng-upgrade, atau install ulang. Maka, sangat logis jika manusia bisa memikirkan dan melakukan apa saja selama di dalam batas/kapasitas kemampuan sistem organ tubuhnya. Selama saratnya terpenuhi, yakni otak yang sehat, panca indra yang sehat, informasi dasar yang cukup dan keberadaan obyek pemikiran, maka manusia bisa melakukan apa saja, termasuk memiliki keahlian-disiplin ilmu yang beragam.
    Sejarah mencatat, berabad-abad yang lampau,ketika eropa masih pulas dengan DARK-Age-nya, pada masa ke-khilafahan Islamiyyah periode Abbasiyah (sekitar abad ke 11 M s/d abad ke 15 M), kota Baghdad dan Spanyol (Andalusia) pernah mengukir tinta emas kejayaan intelektualitasnya. Peradaban kala itu mampu mencetak tidak sedikit kaum intelektual multitalent alias multitasking. Salah satunya ialah Ibnu Sina  (Aviciena, sebutan orang barat padanya). Ia adalah ilmuwan muslim, bapak kedokteran peletak konsep-konsep ilmu kesehatan, penemu sistem anatomi tubuh manusia, yang hingga kini masih menjadi acuan universitas-universitas terkemuka di dunia. Ia juga seorang filosof muslim (mengeluarkan buku-buku filsafat), sastrawan dan pada saat yang sama juga memahami konsep-konsep agamanya (Islam). Biayanya??? Sekolahnya??? gak perlu repot..karna pada masa itu pendidikan gratis-tis-tis. Hebatnya lagi anda akan dibayar jika menulis buku, makalah dll seberat apa yang anda karyakan. Sesuatu yang luar biasa! penghargaan atas intelektual. Pusing cari donatur untuk penelitian or pusing cari lab untuk penelitian? gak bakal kita temukan, sebab laboratorium, perpustakaan tersedia 24 jam dan anda pun di bayar.
   Hemm..bukan untuk romantisme masa lalu, tapi alangkah indahnya jika hal itu ada sekarang…, so..multitasking human memang berat, jika tidak didukung keadaan dan sistem kehidupan. Modal kesungguhan itu penting, tapi ternyata berbekal itu saja tak cukup my friend….
 
by owner
 

Sambut Ramadhan

September 5, 2007 – 6:40 am

PREPARE TO RAMADHAN

Subhanallah! tak terasa waktu bergulir, waktu kan mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan. kira-kira kurang dari 2 minggu lagi umat muslim di seluruh dunia akan menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Lalu apa yang telah/sedang or akan persiapkan? paling tidak, ramadhan tahun ini telah disambut dengan naiknya sejumlah harga barang pokok, naiknya tarif tol JORR, polemik seputar konversi minyak tanah ke gas dan langkanya minyak tanah. Hmmm..sepertinya kehidupan menjelang ramadhan-idul fitri terlihat semakin suram. Hanya mengeluh..tidak akan bisa menyelesaikan persoalan.Nah..mari kita lihat bagaimana Rosulullah dan para shahabat mempersiapkan diri menyambut Ramadhan.

Persiapan itu bukan bersifat materi

    Lumrah dipahami masyarakat awam kita, datangnya Ramadhan-Idul Fitri berarti meningkatnya sejumlah kebutuhan hidup. Yakni, tuntutan menu buka puasa yang  istimewa, persiapan baju lebaran, menstok sejumlah bahan pokok sejak dini, menstok kue lebaran, mengecat rumah, kalo perlu ganti perabotan hingga harapan naiknya pesangon/THR tak ketinggalan angpow untuk keponakan tercinta. Tanpa sadar kadang menghilangkan kekhusukan ibadah di bulan Ramadhan.

Persiapkan diri dari jauh-jauh hari 

    Jangan kalah sebelum berperang. Benar, sebentar lagi kita akan memasuki medan pertempuran. Bukan Belanda , Jepang apalagi AS yang menjadi musuhnya tapi hawa nafsu diri sendiri. Peperangan akan dimenangkan tergantung seberapa jauh persiapan. Raosulullah SAW telah mendidik para shahabat agar mempersiapkan diri menuju Medan Ramadhan dari sejak bulan Rajab-Sya’ban. Bahkan ketika bulan sya’ban telah masuk, Rasulullah semakin menggencarkan puasa-puasanya. Ummul mukminin Aisyah ra menuturkan: ‘Aku tidak melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadhan dan Aku tidak melihat beliau lebih banyak berpuasa dibandingkan dengan pada bulan Sya’ban’ (HR.Al-Bukhori-Muslim). Baginda Rosul bahkan memposisikan puasa pada bulan Sya’ban sebagai persiapan untuk menjalani Ramadhan. Anas ra menceritakan bahwa Nabi SAW pernah ditanya: ‘Puasa manakah yang paling afdhol setelah puasa ramadhan? Rosul menjawab:Puasa Sya’ban untuk menagungkan Ramadhan’ (HR.At-Tirmidzi).

     Jadi apa aja yang bisa kita lakukan? Persiapan penting yang mesti kita siapkan adalah:

 1.Persiapan mental,  yakni mempersiapkan ruhiah dengan membangkitkan semangat keimanan dan ketakwaan.Caranya adalah via memperbanyak amalan ibadah, agar saat bertemu Ramadhan tak ada lagi suasana kaget dengan padatnya ibadah taraweh, tadarus dll. Salah satunya denganberpuasa  di bulan Sya’ban (btw bulan Sya’ban tinggal beberapa hari lagi).Memperbanyak sedekah, sholat sunnah dan tadarus serta hapaqlan Al-qur’an .

 2.Persiapan Ilmu, yaknimenambah literatur/informasi/bacaan seputar Ramadhan . Apa saja hal-hal yang akan mengurangi pahalannya, amalan-amalan sunnahnya dan apa saja keutamaannya. Seputar fiqh puasa dan fiqh sholat taraweh-fiqh sholat Ied perlu kita pahami dengan segera.

 Terakhir, agar menambah kerinduan dan semangat diri menyongsong Ramadhan, Mari kita mrenungkan pesan-pesan Rasulullah berikut ini:

 "Wahai manusia, kalian telah dinaungi bulan yang agung, bulan penuh berkah, bulan yang di dalamntya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah telah menjadikan puasa pada bulan itu sebagai kewajibab dan sholat malamnya sebagai sunnah.Siapa saja yang bertaqorrub di dalamnya dengan sebuah kebajikan, ia seperti melaksanakan kewajiban pada bulan lain. Siapa saja yang melaksanakan satu kewajiban di dalamnya, ia seperti melaksananakna 70 kewajiban [pada bulan lainnya. Pahalanya adalaha surga, ia juga pelipur lara dan ditambahnya rezeki seorang mukmin…" (HR.Ibn Khuzaimah dalam Shaih Ibn Khuzaimah-al-Baihaqi di dalam Syu’ab al-Iman).


Duh…Korupsi Melulu

July 24, 2007 – 5:09 am

Telaah Kritis Kasus Korupsi di Indonesia : Bad Government

Merebaknya kasus penyelewengan dana Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) akhir-akhir ini yang melibatkan para capres dan cawapres pemilu beberapa waktu lalu, menambah daftar hitam sejarah korupsi di kalangan para pejabat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tahun 1998, siaran Transparasi Internasional, sebuah organisasi anti korupsi bermarkas di Berlin, menyatakan Indonesia mencapai urutan ke enam terkorupsi di dunia, prestasi ini terus naik hingga pada tahun 2001, lembaga yang sama melaporkan prestasi korupsi di Indonesia naik ke peringkat 4. Kemudian tahun 2002 Indonesia ‘berhasil’ dinobatkan sebagai Negara terkorup se-asia! Sejak dibentuknya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) memang banyak kasus korupasi terjaring, namun berbagai pihak mengkritik, kasus yang terjaring hanya kasus kelas teri dan terkesan tebang pilih. Beberapa waktu lalu bahkan beberapa tokoh KPK justru terjerat kasus korupsi juga. Ironisnya pula Hamid Awaludin (Mantan Menteri Kabinet Indonesia Bersatu) yg dulu pada awal-awal reformasi menjadi pengkritik aktif korupsi di kalangan pejabat pemerintah, ternyata terjebak kasus korupsi juga, yang dulu sering ia cibir. Kesimpulan sementara berbicara, ternyata reformasi yang digaungkan 9 tahun lalu ternyata belum mampu mereformasi birokrasi dalam pemerintahan, atau malah tidak akan pernah mampu !??. Benarkah Indonesia tidak bisa menjadi good goverment and clean goverment ? dimanakah letak kelemahannya? Mari kita bahas bersama….

Korupsi Pejabat : dalam pisau analisa

Korupsi yang terjadi di Indonesia sudah merebak di semua level, dari level elit politik hingga level tukang becak, tidak cuma orang dewasa tapi juga anak-anak. Korupsi ibarat jamur yang susah dibasmi, bahkan sudah membudaya. Mengapa? Ada segudang alasan seperti kelemahan kepemimpinan, kelemahan pengajaran agama & etika, kurangnya pendidikan, kemiskinan, hukuman terlalu ringan dsb

Paling tidak ada dua factor utama penyebab korupsi yaitu:

  1. Faktor Individu

Individu yang memiliki orientasi hidup berasas materialisme sehingga mengukur kebahagiaan hidup dengan timbangan seberapa banyak kebutuhan jasmani dan naluri terpenuhi, berpeluang besar untuk melakukan tindak korupsi. Meluasnya paham materialisme ini, mempengaruhi karakter individu masyarakat, bukan saja pejabat pemerintah. Mereka tidak lagi punya rasa malu, rasa bersalah sekaligus pengendalian diri. Bahkan korupsi dipandang cara sah untuk ” bagi-bagi rezeki”, menjaga stabilitas masyarakat, serta alat untuk mendukung dan mengendalikan kesetiaan politik.

  1. Faktor Sistem

Ternyata individu yang berkontibusi positif bagi berkembangbiaknya korupsi, tidak berdiri sendiri. Karena sebuah system merancang pembangunan karakter pribadi individual masyarakatnya. Sistem dimaksud meliputi segenap system kenegaraan, pemerintahan, hokum, birokrasi dan social, detailnya sbb:

    1. Sistem hokum lemah

    Sistem di Indonesia tidak bisa menjalankan fungsinya untuk mencegah terjadinya KKN, sekaligus tidak mampu membuat jera para pelakunya. Lucunya banyak kasus yang tidak bisa dijerat apalagi jika yang bersangkutan sedang berkuasa.

      1. Penegakan hokum yang tidak serius

      Para hakim, jaksa, polisi dan penasehat hukum tunduk pada tekanan politik dan publik daripada taat pada undang-undang yang ada. Penegakkan hukum masih pilih bulu, tergantung siapa yang mau ditindak. Ancaman hukuman yang ringan, serta aksi lari dari penjara atau keluar negeri sudah biasa. Akhirnya kasus tsb tutup buku tanpa ending jerat hukum.

        1. Sistem penggajian rendah

        Argumentasi dibentuk bahwa korupsi terjadi karena alasan rendahnya gaji. Namun fakta membuktikan, sekalipun gaji dinaikkan korupsi tidak berhenti, malah semakin membesar.

          1. Sistem social

          Masyarakat yang mengagung-agungkan materi akan mentolerir tindak korupsi disekitarnya. Korupsi semakin subur dengan dukungan dari masyarakat. Koruptor yang dermawan yang gemar berkegiatan social menjadi pahlawan dan dihormati di masyarakat, tanpa lagi melihat dari mana sebenarnya asal dana yang dibagi-bagikan kepada masyarakat.

          Syariat Islam : The Only One Solution

          Good government and Clean Government harus dibangun secara sitematis dan kontinu, merupakan kombinasi antara membangun individu yang baik juga system yang kondusif, tidak boleh ada dikotomi. Hanya sistem terbaiklah yang bisa memberi penyelesaian tanpa meninggalkan masalah atau memberi solusi dengan masalah baru (layaknya praktek sistem kapitalis selama ini).

          Ada 3 resep untuk mencabut jamur korupsi hingga akar-akarnya:

          1. Kesempurnaan sistem

          Sistem kapitalis terbukti tidak mampu menyelesaikan masalah korupsi, penyakit kambuhan korupsi selalu muncul, mengapa? Karna kapitalis bukan sistem terbaik sekaligus tidak sempurna, sebab datang dari yang serba terbatas yakni manusia. Sedangkan Islam adalah akidah yang sempurna datang dari yang Maha sempurna , sesuai firman Allah ”Pada hari ini telah Ku sempurnakan agama mu bagi mu,…..” (TQS: Ali-Imran:3). Terbukti dalam sejarah, pemerintahan Islam mampu mencegah korupsi sekaligus menyelesaikan masalah ini secara tegas. Selama 1400 tahun pemerintahan Islam berkuasa hanya ada 200 kasus potong tangan bagi pencuri, bandingkan jika Anda melihat Buser, Sergap dan acara sejenisnya hampir tiap menit ada kasus kriminal.

          Pada masa kekhilafahan Umar bin Khattab, ia melarang pejabat negara berdagang, agar bisa berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya. Hal ini didukung dengan jaminan kebutuhan hidup pejabat negara dan keluarganya. Sistem Islam melarang aparat negara menerima suap dan hibah/hadiah. Sesuai dengan firman Allah dalam QS:2:188 dan sabda nabi : ”Rasulullah melaknat penyuap, penerima suap dan orang yang mensaksikan penyuapan” (HR.Ahmad,Thabrani,Al-Bazar dan Al-Hakim). Terkait masalah hadiah maka rosul pernah bersabda ”Hadiah yang diberikan kepada para penguasa adalah suht (haram) ……”(HR.Imam Ahmad). Hadiah diberikan atas pamrih tertentu, agar pada suatu ketika ia dapat memperoleh kepentingan dari si penerima hadiah (suap terselubung). Hadiah itu diberikan padanya karena jabatannya, tentunya jika dia tidak menduduki jabatan tersebut maka hadiah tersebut pasti tidak datang padanya.Aktivitas yang dilakukan negara khilafah ketika itu sbb:

            1. Penghitungan kekayaan

            Sebagai antisipasi dari kecurangan maka Kholifah Umar bin Khattab pernah membuat biro khusus penghitung kekayaan pejabat negara. Jika terjadi kenaikkan penghasilan yang tidak wajar selama menjabat dan pejabat tsb tidak mampu menjelaskan sumber pemasukkannya atau ada indikasi kuat ia berbuat korup maka ia akan dikenai sanksi, hartanya disita diserahkan ke baitul mal.

              1. Keteladanan pemimpin

              Pemimpin yang mampu memberikan contoh yang baik akan berpengaruh kuat bagi jalannya pemerintahan. Misalnya seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ketika suatu hari ia membagikan minyak wangi kepada rakyatnya, maka ia pun menutup hidungnya, supaya ia tidak menhirup bau harumnya, sebab ia takut Allah akan menghisab ia kelak, karena telah menghirup sesuatu yang bukan haknya. Subhanallah! Bandingkan dengan berapa banyak pejabat negara sekarang yang dengan seenak hati menyalahgunakan fasilitas negara!

                1. Penegakkan hukum yang adil

                Penegakkan sistem sanksi dalam Islam memiliki 2 fungsi yaitu sebagai penebus dosa sekaligus pencegah. Kasus korupsi akan ditindak dengan ta’zir yang bentuk hukumannya tergantung tabanni kholifah ( Kitab Sistem Sanksi by Hizbut Tahrir, Bab Ta’zir). Para koruptor kelas kakap, yang dengan tindakannya bisa menganggu perekonomian negara, memperbesar kemiskinan, dapat diancam hukuman mati. Pada zaman dulu para koruptor juga diarak keliling kota.

                1. Kualitas SDM

                Individu yang sholeh sangat diperlukan dalam penegakkan sistem. Dengan iman, setiap pejabat akan merasa bahwa Allah senantiasa mengawasi tindak tanduknya. ”Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulit terhadapmu. Gahkan kamu mengira bahwa Allah SWT tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikianitu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu,….” (TQS:41:22-23). Dengan imannya para birokrat dan rakyat akan berusaha keras mencari rizki yang halal.

                1. Sistem kontrol yang kuat

                Kontrol merupakan elemen penting dalam membangun pemerintahan yang bersih dan baik,. Sistem kontrol tidak saja dijalankan dari pimpinan kepada bawahannya, melainkan juga dari rakyat kepada aparatur negara. Semua elemen mesti menyadari fungsi kontrol ini. Melakukan koreksi terhadap penguasa adalah wajib, sabda Rasulullah ” Sebaik-sebaiknya jihad adalah (menyatakan) kata-kata yang haq di hadapan penguasa yang dzalim” (HR.Ahmad), bahkan jika pengkoreksi tersebut mati karena mengingatkan penguasa tsb, maka ia akan diberi pahala mati syahid.

                Kesimpulan

                Selama lebih dari 12 abad sistem Islam mampu bertahan dan mampu menghadapi berbagai macam penyimpangan dan penghianatan dari pelanggarnya. Hingga kini belum ada sistem yang mampu menandingi ketangguhanya, bahkan sistem Kapitalis juga tidak.

                Maka, jawaban atas kebutuhan akan hadirnya pemerintahan yang bersih dan baik adalah hanya dengan menjadikan Islam sebagai platform pengaturan negara (idiologi) dan syariat Islam sebagai aturan kehidupan bermasyarakat dan pemerintahan. Hanya dengan syariat Islam akan tuntas..tas..tas.

                Insya Allah.

                By: Owner  


                Waktu….

                July 24, 2007 – 4:42 am

                Gak terasa sebentar lagi kita ujian, padahal kayaknya baru kemarin kita kuliah…

                Gak terasa umur juga bertambah, padahal kayaknya baru aja belajar berjalan…

                Gak nyangka kalo kemaren Taufiq Savalas dah meninggah

                Gak nyadar kalo sekarang dah di minggu2 terakhir kuliah…

                Hmmmm…

                Kadang kita gak menyadari waktu cepet banget berjalan…, gak ada yang bisa diulang, kecuali kalo pake pintu ajaibnya doraemon jadi

                bisa pergi ke zaman apa aja

                " Orang yang hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi" 

                 


                dobrak penjajahan

                July 3, 2007 – 6:20 am

                    Indonesia memang sudah merdeka lebih dari separuh abad, tapi sebenarnya belum benar2 merdeka. negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini masih DIJAJAH. apa sih indikator sebuah negara itu merdeka?

                1. Bebas mengatur dirinya sendiri (tanpa tekanan or intervensi asing)

                2. Keamanan dan kesejahtraan warga negara dibawah kontrol pemerintahan

                Indonesia belum MERDEKA, yang ada kemerdekaan semu dengan penjajahan terselubung, 2 type pejajahan di negeri ini:

                1.Penjajahan secara intelektual

                2.penjajahan secara ekonomi dan politik,

                Dan…dari semua indikator…indonesia memenuhi

                Mari buka mata dan telinga 

                    Indonesia belum bebas mengatur dirinya, kebijakan politik indonesia disinyalir sering mendapat intervensi asing, khusunya negara adidaya  si "Paman Sam". Bukti..dengan mudah pemerintah Indonesia menarik dukungannya terhadap Iran yang tersangkut nuklir, dengan teganya mendukung resolusi PBB atas Iran beberapa waktu lalu, padahal publik masih ingat, bagaiman manisnya Indonesia menjamu Ahmad dinejad (orang nomor satu di Iran tsb). Apakah kita punya 2 muka layaknya koin uang?? 

                Kesejahtraan Indonesia bukan ditangannya, tapi ditangan rentenir kelas dunia, IMF. Siapapun tau, fakta membuktikan setiap negara yg memakai "resep" IMF penyakitnya akan semakin kronis. Misalnya Argentina, Bolivia, Venezula dan negara2 Amerika latin serta negaraduni ketiga lainnya yg notabene pelangganny bukannya semakin sehat, malah semakin amburadul. Jelas Iya..lihat Indonesia setelah menandatangai LOI (letter of Intent) sebuah MoU antar Indonesia dgn IMF, banyak aset2 negara yg mesti dijual dalam rangka memenuhi perjajian agar IMF mengucurkan dananya. Jadilah Indosat sahamnya dimilki Singapura, blok Natuna di Cepu  (berdasarkan penelitian menyimpan milyaran barel gas, bahkan kandidat tambang migas terbesar di dunia) pengelolaannya diserahkan kepada MNC dgn pembagian untung merugikan Indonesia, atau lahirnya UU.Pemodal Asing (PMA) yg telah mengizinkan asing untuk menanamkan modalnya bahkan mengelola kekayaan Indonesia utk  waktu 95 tahun!! Maka siaplah anak cucu kita penjadi penyewa di rumah sendiri